Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

2.443 item publik

Publikasi

Halaman 7 dari 123

FORMULASI SEDIAAN TABLET EFFERVESCENT EKSTRAK DAUN BANDOTAN (Ageratum conyzoides L.) DENGAN VARIASI ASAM-BASA

NIHAYATUSSYIFA
2026 · Book · Open Access

Inflamasi merupakan respon biologis tubuh terhadap cedera atau infeksi yang sering menimbulkan rasa nyeri dan ketidaknyamanan, sehingga diperlukan alternatif terapi yang efektif dan praktis. Daun bandotan (Ageratum conyzoides L.) diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi yang berasal dari kandungan senyawa metabolit sekunder, terutama flavonoid, namun pemanfaatannya masih terbatas dalam bentuk sediaan yang kurang praktis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi asam-basa terhadap karakteristik fisik tablet effervescent ekstrak daun bandotan serta menentukan konsentrasi optimum untuk menghasilkan tablet yang memenuhi persyaratan. Variasi konsentrasi yang digunakan yaitu 50% (Formula I), 55% (Formula II), dan 60% (Formula III). Metode penelitian meliputi pembuatan ekstrak, pengeringan menggunakan aerosil, granulasi basah, dan pencetakan tablet yang dilakukan pada tahun 2026. Evaluasi meliputi uji organoleptis, keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, dan waktu larut. Analisis data dilakukan secara statistik menggunakan uji One-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa granul memiliki sifat alir yang baik. Tablet yang dihasilkan memiliki bentuk seragam, keseragaman bobot dan kekerasan memenuhi syarat, sedangkan kerapuhan menunjukkan Formula III tidak memenuhi syarat (2,40%). Uji waktu larut menunjukkan seluruh formula tidak memenuhi standar (>5 menit), diduga akibat kelembapan yang memicu reaksi effervescent dini. Disimpulkan bahwa variasi konsentrasi berpengaruh terhadap karakteristik fisik tablet dan Formula II merupakan konsentrasi paling optimal, meskipun belum memenuhi persyaratan waktu larut sehingga masih diperlukan optimasi lebih lanjut

EVALUASI RASIONALITAS ANTIBIOTIK PADA PENYAKIT NECROSIS PULPA DI KLINIK Dr. SHALAM PURBALINGGA TAHUN 2025

HASNA RIZKI SAFIRA
2026 · Book · Open Access

Necrosis pulpa merupakan kondisi kematian jaringan pulpa akibat infeksi bakteri atau trauma yang menjadi salah satu kasus terbanyak di layanan kesehatan gigi. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada kondisi ini berisiko menimbulkan resistensi antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien necrosis pulpa di Klinik dr. Shalam Purbalingga tahun 2025. Metode yang digunakan adalah deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan retrospektif melalui kajian rekam medis terhadap 100 pasien. Rasionalitas dievaluasi berdasarkan lima parameter WHO, yaitu tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, dan tepat cara pemberian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien didominasi perempuan (64%) dan kelompok usia dewasa 26–45 tahun (38%). Antibiotik yang paling banyak diresepkan adalah amoksisilin (88%), diikuti cefixime (8%), clindamycin (3%), dan metronidazole (1%). Evaluasi terhadap kelima parameter rasionalitas seluruhnya mencapai 100%, meliputi tepat pasien, tepat indikasi, tepat dosis, tepat obat, dan tepat cara pemberian. Disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik pada pasien necrosis pulpa di Klinik dr. Shalam Purbalingga tahun 2025 telah memenuhi standar rasionalitas sesuai kriteria WHO, Formularium Nasional, dan pedoman ADA, serta mencerminkan penerapan prinsip antibiotic stewardship yang baik.

Analisis kandungan hidrokuinon pada krim pencerah merek X yang dijual di shopee menggunakan metode KLT dan spektrofotometri UV-Vis

FATIHATU ZAHRO
2026 · Book · Open Access

Krim pencerah wajah yang dijual secara daring berpotensi mengandung bahan berbahaya seperti hidrokuinon yang penggunaannya dibatasi dalam produk kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan dan menentukan kadar hidrokuinon pada krim pencerah merek X yang dijual di Shopee.penelitian dilakukan secara kualitatif menggunakan metode kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan kuantitatif menggunakan Spektrofotometri UV-Vis terhadap 4 sampel yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Analisis KLT dilakukan menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak metanol:kloroform (25:25), kemudian diamati pada sinar UV 254 nm. Penetapan kadar dilakukan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 295 nm. Hasil penelitian menunjukkan sampel C dan sampel D mengandung hidrokuinon dengan nilai Rf sebesar 0,8 mendekati nilai Rf baku hidrokuinon 0,91, sedangkan sampel A dan B negatif. Rata-rata kadar hidrokuinon pada sampel C sebesar 14,3975% ± 1,110% dan sampel D sebesar 16,545% ± 0,643%. Hasil uji Independent Sampel t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan kadar hidrokuinon antar kedua sampel (p=0,172), tetapi kadar keduanya jauh melebihi batas BPOM RI sebesr 0,02%. Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019, kedua sampel tidak memenuhi persyaratan keamanan kosmetik.

PENETAPAN KADAR VITAMIN C PADA MERK BERKLAIM MENGANDUNG VITAMIN C MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

AZZAHRA ELGIANTH PUTRI
2026 · Book · Open Access

.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dan mengevaluasi kadar vitamin C pada berbagai merek minuman yang mengklaim mengandung vitamin C yang beredar di minimarket daerah Ajibarang Kulon menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif-komparatif. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling sebanyak enam merek minuman yaitu Hemaviton C1000, You C1000, Oronamin C Drink, Adem Sari Vitamin C Herbal, Immunizer, dan Floridina. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan pereaksi Benedict dan kromatografi lapis tipis (KLT), sedangkan analisis kuantitatif dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksi amonium molibdat 5% pada panjang gelombang 570 nm. Hasil penelitian menunjukkan kadar vitamin C pada sampel A sebesar 0,062 mg/mL, sampel B sebesar 0,250 mg/mL, sampel C sebesar 9,625 mg/mL, sampel D sebesar 3,437 mg/mL, sampel E sebesar 9,250 mg/mL, dan sampel F sebesar 4,000 mg/mL. Hasil perbandingan dengan label menunjukkan adanya perbedaan kadar aktual dengan kadar yang dicantumkan pada kemasan produk. Metode spektrofotometri UV-Vis menunjukkan linearitas yang sangat baik dengan persamaan regresi y = 0,0126x + 0,0286 dan koefisien korelasi (R²) sebesar 0,9967.

ANALISIS KANDUNGAN FUROSEMID PADA JAMU PELANGSING YANG DIJUAL DI MARKETPLACE MENGGUNAKAN METODE KLT DAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

DILA RAHMA
2026 · Book · Open Access

Jamu pelangsing merupakan salah satu produk obat tradisional yang banyak digunakan masyarakat untuk menurunkan berat badan. Peredaran jamu pelangsing dengan klaim berlebih di marketplace menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan produk, terutama adanya penambahan Bahan Kimia Obat (BKO) seperti furosemid yang dilarang dalam obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menentukan kadar furosemid pada jamu pelangsing yang dijual di marketplace. Penelitian ini merupakan deskriptif eksperimental yang dilakukan di laboratorium dengan metode analisis kualitatif menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak tiga produk jamu pelangsing dari Shopee berdasarkan kriteria memiliki klaim berlebih dan tingkat penjualan tinggi. Fase gerak yang digunakan adalah etil asetat : metanol (6:4), identifikasi dilakukan berdasarkan nilai Rf dan pengamatan bercak di bawah sinar UV, sedangkan penetapan kadar dilakukan menggunakan kurva kalibrasi pada panjang gelombang maksimum 371 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tiga sampel yang diuji, hanya sampel B yang positif mengandung furosemid dengan nilai Rf sebesar 0,73 dan kadar sebesar 0,759% ± 0,044%, sedangkan sampel C dan S dinyatakan negatif. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 007 Tahun 2012 tentang obat tradisional, sehingga produk tersebut melanggar ketentuan karena mengandung BKO dan berpotensi membahayakan kesehatan konsumen