Sebanyak 3 item atau buku ditemukan

Manajemen Kesehatan

Berbicara sistem pelayanan kesehatan adalah struktur atau gabungan dari sub sistem didalam suatu unit atau didalam suatu proses untuk mengupayakan pelayanan kesehatan baik preventif, kuratif, promotif maupun rehabilitatif. Sehingga sistem pelayanan kesehatan ini dapat berbentuk Puskesmas, Rumah sakit, Balkesmas dan unit-unit atau organisasi-organisasi lain yang mengupayakan peningkatan kesehatan. Sesuai dengan tujuan sistem kesehatan, administrasi (manajemen) kesehatan tidak dapat disamakan dengan administrasi niaga (business adminstration) yang lebih banyak berorientasi pada upaya untuk mencari keuntungan finansial (profit oriented). Administrasi kesehatan lebih tepat digolongkan ke dalam administrasi umum/publik (public administration) oleh karena organisasi kesehatan lebih mementingkan pencapaian kesejahteraan masyarakat umum. Sesuai dengan tujuan sistem kesehatan, administrasi (manajemen) kesehatan tidak dapat disamakan dengan administrasi niaga (business adminstration) yang lebih banyak berorientasi pada upaya untuk mencari keuntungan finansial (profit oriented). Administrasi kesehatan lebih tepat digolongkan ke dalam administrasi umum/publik (public administration) oleh karena organisasi kesehatan lebih mementingkan pencapaian kesejahteraan masyarakat umum. Dengan demikian, efisiensi dalam system pelayanan kesehatan akan terwujud jika sumber-sumber daya kesehatan, baik alat, sarana, dana, teknik, metode dan informasi tidak banyak yang terbuang sia-sia. Untuk mewujudkan keamanan dan rasa nyaman dalam pelayanan kesehatan harus didukung adanya pola kebijakan dasar, dasar hukum, prosedur dan standar praktek dalam pelayanan kesehatan yang berorientasi pada profesionalisme dan pemenuhan hak dasar rakyat. Jika faktor-faktor di atas dapat dibangun, maka tidaklah sulit untuk mewujudkan pelayanan kesehatan dengan kepuasan masyarakat yang tinggi. Pentingnya manajemen kesehatan ini bisa dianalogikan sebagai sistem dalam tubuh manusia. Di dalam sistem itu ada sistem pernafasan, sistem pencernaan, sistem ekskresi, ada sistem kekebalan tubuh, sistem syaraf pusat dan perifer dengan beberapa bagian otonom. Secara fungsional, mereka memiliki fungsi dan peran yang jelas, tetapi terkoordinasi. Sementara secara anatomis, masing-masing juga memiliki struktur dan masing-masing struktur memiliki peran spesifik dengan peran yang dimiliki. Untuk itu, buku ini disusun dengan maksud memberikan pemahaman dan tambahan wawasan tentang lingkup manajemen khususnya manajemen bidang kesehatan.

Jika faktor-faktor di atas dapat dibangun, maka tidaklah sulit untuk mewujudkan pelayanan kesehatan dengan kepuasan masyarakat yang tinggi. Pentingnya manajemen kesehatan ini bisa dianalogikan sebagai sistem dalam tubuh manusia.

Kesehatan Masyarakat dalam Perspektif Sosioantropologi

Pendidikan telah ada sejak manusia pertama ada di dunia ini, dan akan berakhir sampai pada berakhirnya kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, pendidikan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dan paling urgen dalam kehidupan manusia. Manusia, dengan bekal akal fikiran atau rasio yang dimiliki serta status dan perannya sebagai ‘mahluk belajar’, terbukti telah mampu mengelola dan memanfaatkan hidup dan kehidupannya dalam, dengan dan melalui belajar. Sadar atau tidak sadar, langsung atau tidak langsung, suka atau tidak suka, manusia telah dan akan terus belajar mengelola dan memanfaatkan kehidupannya baik dalam kerangka menjalani dan mempertahankan hidup maupun dalam menciptakan perubahan-perubahan tatanan hidup yang lebih baik dan berharkat martabat. Manusia dengan kualitas-kualitas yang dimiliki, akan terus berhadapan dengan berbagai permasalahan dan tantangan dalam hidup dan kehidupannya, akan terus berhadapan dengan realitas atau kenyataan-kenyataan baik yang sifatnya menyenangkan dan menggembirakan serta menguntungkan maupun yang sifatnya kurang/tidak menyenangkan, mengecewakan, menyedihkan, merugikan serta menyengsarakan. Dalam konteks tersebut, maka manusia dengan kualitasnya akan dipaksa ataupun dimotivasi untuk terus belajar, yaitu: belajar memikirkan, belajar mengambil keputusan, belajar bertindak, dan pada akhirnya belajar menjadi manusia yang bijaksana, rasional atau berakal sehat dan cerdas. Kualitas-kualitas yang dimiliki berupa otak, akal fikiran dan kecerdasan emosional (rasio), nalar batin, mental, motivasi (kekuatan psikis), kompetensi (pengetahuan, keterampilan, pengalaman) serta indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan) serta potensi-potensi diri lainnya, memungkinkan setiap orang atau manusia untuk mempelajari berbagai hal yang dihadapi selama masa atau sepanjang hidup dan kehidupannya; mempelajari beragam nilai-nilai dan norma-norma sosial budaya; mempelajari dan mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi; mempelajari keahlian-keahlian atau keterampilan-keterampilan tertentu; Manusia dengan kualitas-kualitas yang dimiliki, telah, sedang dan akan terus belajar berbagai hal mulai dari belajar bercocok tanam dan membudidayakan tanaman-tumbuhan (bertani dan berkebun), belajar memelihara atau membudidayakan hewan ternak (berternak), belajar mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan, belajar membuat peralatan atau sarana prasarana tertentu, belajar berdagang, belajar hukum, belajar politik, belajar manajemen dan lain sebagainya. Materi dalam Buku ini terdiri atas empat bagian atau bab, yang menguraikan tentang konsep belajar sepanjang hayat, antropologi dan sosiologi kesehatan, teori pendekatan sosial dalam kesehatan, serta konsep dasar kesehatan dalam aspek-aspek sosial budaya serta hubungannya dengan ekologi.

Pendidikan telah ada sejak manusia pertama ada di dunia ini, dan akan berakhir sampai pada berakhirnya kehidupan di muka bumi.

Dukun dan Bidan Dalam Perspektif Sosiologi

Buku yang berjudul, Dukun dan Bidan Dalam Perspektif Sosiologi, buku ini disajikan sebagai bahan bacaan ilmiah yang diperuntukkan bagi mahasiswa dan para staf pengajar, dalam rangka menambah wawasan pengetahuan terkait dukun dan bidan, khususnya mahasiswa kebidanan yang hampir dipastikan, tidak lagi termotivasi untuk membaca buku2 terkait dengan dukun, mengingat eranya tidak lagi menjumpai banyak dukun, kalaupun ada dukun pasti sudah tua sehingga untuk diajak bermitra atau berkolaborasi sudah sulit, terutama disebabkan faktor komunikasi. Buku ini mencoba memaparkan beberapa hasil penelitian, argument maupun pendapat orang lain yang terkait dengan dukun dan bidan, paling tidak menyadarkan kita bahwa, sejarah mencatat bahwa sebelum adanya profesi bidan, yang menolong persalinan adalah seorang dukun,atau biasa disebut, sanro, atau tabib, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dukun secara perlahan- lahan kehilangan lahan pekerjaan dan tergantikan dengan seorang bidan, kalau kita bertanya kepada mereka yang saat ini telah berumr diatas 50 tahun , hampir dipastikan bahwa mereka yang menolong sewaktu dilahirkan adalah seorang dukun, terutama didaerah pedesaan, karena memang waktu itu masih sangat sedikit bidan, kalaupun ada hanyalah tinggal diperkotaan. Terlepas dari semua itu, kami menyadari baha buku ini masih sangat banyak kelemahan dan kekurangan, lantaran keterbatasan kemampuan yang kami miliki, oleh karena itu kami sangat mengharapkan masukan dan saran ilmiah supaya buku ini dapat disempurnakan kedepan jauh lebih baik.

Buku yang berjudul, Dukun dan Bidan Dalam Perspektif Sosiologi, buku ini disajikan sebagai bahan bacaan ilmiah yang diperuntukkan bagi mahasiswa dan para staf pengajar, dalam rangka menambah wawasan pengetahuan terkait dukun dan bidan, ...