ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Produk perikanan merupakan sumber pangan bergizi tinggi, namun mudah rusak akibat kontaminasi mikroorganisme. Cemaran bakteri seperti Escherichia coli dan Salmonella sp. dapat menurunkan mutu serta menimbulkan risiko kesehatan, sehingga diperlukan pengujian mikrobiologi untuk menjamin keamanan pangan. Penelitian ini bertujuan membandingkan tingkat cemaran E. coli dan Salmonella sp. pada produk perikanan dengan metode pengawetan berbeda (beku,segar, kering, dan kaleng) di BPMHP Semarang, serta mengetahui perbedaan tingkat cemaran yang dihasilkan. Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan uji Angka Lempeng Total (ALT) serta deteksi E. coli dan Salmonella sp. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan cemaran mikrobiologi pada tiap metode pengawetan. Rajungan kaleng menunjukkan mutu terbaik dengan ALT 10 kol/g serta negatif E. coli dan Salmonella sp. Udang kering juga masih memenuhi standar karena ALT rendah (100 kol/g) dan negatif E. coli. Udang segar memiliki ALT tertinggi (17.000 kol/g), sedangkan gurita beku mengandung E. coli 9, 2 APM/g meski ALT masih di bawah batas SNI. Kesimpulannya, metode pengawetan berpengaruh terhadap mutu mikrobiologi produk perikanan. Pengawetan kaleng dan kering lebih efektif menjaga keamanan pangan dibandingkan metode segar dan beku.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Produk perikanan merupakan sumber pangan bergizi tinggi, namun mudah rusak akibat kontaminasi mikroorganisme. Cemaran bakteri seperti Escherichia coli dan Salmonella sp. dapat menurunkan mutu serta menimbulkan risiko kesehatan, sehingga diperlukan pengujian mikrobiologi untuk menjamin keamanan pangan. Penelitian ini bertujuan membandingkan tingkat cemaran E. coli dan Salmonella sp. pada produk perikanan dengan metode pengawetan berbeda (beku,segar, kering, dan kaleng) di BPMHP Semarang, serta mengetahui perbedaan tingkat cemaran yang dihasilkan. Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan uji Angka Lempeng Total (ALT) serta deteksi E. coli dan Salmonella sp. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan cemaran mikrobiologi pada tiap metode pengawetan. Rajungan kaleng menunjukkan mutu terbaik dengan ALT 10 kol/g serta negatif E. coli dan Salmonella sp. Udang kering juga masih memenuhi standar karena ALT rendah (100 kol/g) dan negatif E. coli. Udang segar memiliki ALT tertinggi (17.000 kol/g), sedangkan gurita beku mengandung E. coli 9, 2 APM/g meski ALT masih di bawah batas SNI. Kesimpulannya, metode pengawetan berpengaruh terhadap mutu mikrobiologi produk perikanan. Pengawetan kaleng dan kering lebih efektif menjaga keamanan pangan dibandingkan metode segar dan beku.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kangkung Air (Ipomea aquatica forsk L.) Merupakan salah satu jenis ranaman yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sebagai sayuran. Akar Kangkung Air juga dapat digunakan sebagai Obat Tradisional. Salah satunya seperti obat infeksi pencernaan contohnya diare. Selain itu, akar kangkung air mengandung senyawa antibakteri seperti Flavonid, Alkaloid, Saponin dan Fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengerahui peningkatan aktivitas antibakteri fraksi etil asetat ekstrak etanol akar kangkung air ( Ipomea aquatica forsk L.) Terhadap Escherichia coli. Sampel yang akan digunakan diekstrak dengan metode maserasi kemudian di fraksinasi etil asetat selanjutnya di uji bakteri dengan konsentrasi 40%, 60%, 80%, dan 100%.