ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanda-tanda bahwa anak mengalami susah makan dan kemudian akan memicu terjadinya gizi buruk adalah sangat terbatasnya asupan nutrisi dan nafsu makan yang berkurang. Rimpang temu ireng,temulawak, kencur dan jahe memiliki kandungan minyak atsiri, kurkumin, xanthorizol, gingerol dan flavonoid pada tiap tanaman yang dapat meningkatkan berat badan serta nafsu makan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakologi STIKes Ibnu Sina Ajibarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dan frekuensi optimal dalam pemberian infusa kombinasi terhadap berat badan dan konsumsi pakan mencit. Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan metode Pre-Post test control design. Sebanyak 28 ekor mencit jantan terbagi menjadi empat kelompok. Kelompok P0 (aquadest), kelompok P1 (pemberian ½ x dosis), kelompok P2 (pemberian 1x dosis) dan kelompok P3 (pemberian 1 ½ x dosis). Seluruh kelompok perlakuan diaklimatisasi selama 7 hari, kemudian diberi perlakuan sesuai dosis yang telah ditentukan, lalu dilakukan pengamatan kenaikan berat badan dan konsumsi pakan selama 28 hari. Analisis data dilakukan menggunakan uji t-test berpasangan, uji One Way ANOVA, dilanjutkan dengan uji Post-hoc LSD. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh terhadap kenaikan berat badan yang signifikan pada kelompok P2 (p=0.000) dan konsumsi pakan pada seluruh kelompok pada minggu pertama, ketiga dan keempat. (p0,05).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Anemia merupakan suatu kondisi dimana saat tubuh mengalami penurunan kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, dan kadar hematokrit. Rimpang temu ireng, temulawak, kencur dan jahe, mempunyai kandungan senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang dapat mencegah dan memperbaiki kerusakan dari terjadinya stress oksidatif didalam tubuh yang menyebabkan anemia. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakologi STIKes Ibnu Sina Ajibarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan frekuensi optimal pemberian infusa kombinasi temu ireng, temulawak, kencur, dan jahe terhadap kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, dan kadar hematokrit pada tikus putih galur wistar anemia. Metode penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pre-post test control design. Sebanyak 28 ekor tikus putih betina dibagi menjadi empat kelompok perlakuan secara acak. Kelompok P0 (aquadest), kelompok P1 (frekuensi 1 kali sehari), kelompok P2 (frekuensi 2 kali sehari), kelompok P3 (frekuensi 3 kali sehari). Semua kelompok diaklimatisasi terlebih dahulu selama 7 hari, kemudian diinduksi NaNO2 3mg/200gBB selama 15 hari dan diberikan infusa kombinasi selama 7 hari dengan frekuensi pemberian yang berbeda. Pengambilan darah dilakukan sebanyak tiga kali pada waktu yang berbeda, yaitu setelah aklimatisasi 7 hari, setelah diinduksi NaNO2, dan setelah 7 hari pemberian infusa. Kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, dan kadar hematokrit diukur menggunakan alat hemalotogy analyzer. Analsis data dilakukan menggunakan uji One Way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Post-hoc LSD. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan (p=0,000) terhadap pemberian infusa kombinasi yang dapat meningkatkan kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, dan kadar hematokrit tikus putih anemia. Sedangkan frekuensi optimal pemberian infusa kombinasi yang dapat meningkatkan kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, dan kadar hematokrit tikus putih anemia yaitu pada kelompok P3 dengan frekuensi pemberian 3 kali sehari, yang menunjukkan perbedaan nilai signifikansi dengan kelompok lainnya (p0,05).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Anemia merupakan suatu kondisi dimana saat tubuh mengalami penurunan kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, dan kadar hematokrit. Rimpang temu ireng, temulawak, kencur dan jahe, mempunyai kandungan senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang dapat mencegah dan memperbaiki kerusakan dari terjadinya stress oksidatif didalam tubuh yang menyebabkan anemia. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakologi STIKes Ibnu Sina Ajibarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan frekuensi optimal pemberian infusa kombinasi temu ireng, temulawak, kencur, dan jahe terhadap kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, dan kadar hematokrit pada tikus putih galur wistar anemia. Metode penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pre-post test control design. Sebanyak 28 ekor tikus putih betina dibagi menjadi empat kelompok perlakuan secara acak. Kelompok P0 (aquadest), kelompok P1 (frekuensi 1 kali sehari), kelompok P2 (frekuensi 2 kali sehari), kelompok P3 (frekuensi 3 kali sehari). Semua kelompok diaklimatisasi terlebih dahulu selama 7 hari, kemudian diinduksi NaNO2 3mg/200gBB selama 15 hari dan diberikan infusa kombinasi selama 7 hari dengan frekuensi pemberian yang berbeda. Pengambilan darah dilakukan sebanyak tiga kali pada waktu yang berbeda, yaitu setelah aklimatisasi 7 hari, setelah diinduksi NaNO2, dan setelah 7 hari pemberian infusa. Kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, dan kadar hematokrit diukur menggunakan alat hemalotogy analyzer. Analsis data dilakukan menggunakan uji One Way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Post-hoc LSD. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan (p=0,000) terhadap pemberian infusa kombinasi yang dapat meningkatkan kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, dan kadar hematokrit tikus putih anemia. Sedangkan frekuensi optimal pemberian infusa kombinasi yang dapat meningkatkan kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, dan kadar hematokrit tikus putih anemia yaitu pada kelompok P3 dengan frekuensi pemberian 3 kali sehari, yang menunjukkan perbedaan nilai signifikansi dengan kelompok lainnya (p0,05).