ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Krim pencerah wajah yang dijual secara daring berpotensi mengandung bahan berbahaya seperti hidrokuinon yang penggunaannya dibatasi dalam produk kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan dan menentukan kadar hidrokuinon pada krim pencerah merek X yang dijual di Shopee.penelitian dilakukan secara kualitatif menggunakan metode kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan kuantitatif menggunakan Spektrofotometri UV-Vis terhadap 4 sampel yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Analisis KLT dilakukan menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak metanol:kloroform (25:25), kemudian diamati pada sinar UV 254 nm. Penetapan kadar dilakukan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 295 nm. Hasil penelitian menunjukkan sampel C dan sampel D mengandung hidrokuinon dengan nilai Rf sebesar 0,8 mendekati nilai Rf baku hidrokuinon 0,91, sedangkan sampel A dan B negatif. Rata-rata kadar hidrokuinon pada sampel C sebesar 14,3975% ± 1,110% dan sampel D sebesar 16,545% ± 0,643%. Hasil uji Independent Sampel t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan kadar hidrokuinon antar kedua sampel (p=0,172), tetapi kadar keduanya jauh melebihi batas BPOM RI sebesr 0,02%. Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019, kedua sampel tidak memenuhi persyaratan keamanan kosmetik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dan mengevaluasi kadar vitamin C pada berbagai merek minuman yang mengklaim mengandung vitamin C yang beredar di minimarket daerah Ajibarang Kulon menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif-komparatif. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling sebanyak enam merek minuman yaitu Hemaviton C1000, You C1000, Oronamin C Drink, Adem Sari Vitamin C Herbal, Immunizer, dan Floridina. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan pereaksi Benedict dan kromatografi lapis tipis (KLT), sedangkan analisis kuantitatif dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksi amonium molibdat 5% pada panjang gelombang 570 nm. Hasil penelitian menunjukkan kadar vitamin C pada sampel A sebesar 0,062 mg/mL, sampel B sebesar 0,250 mg/mL, sampel C sebesar 9,625 mg/mL, sampel D sebesar 3,437 mg/mL, sampel E sebesar 9,250 mg/mL, dan sampel F sebesar 4,000 mg/mL. Hasil perbandingan dengan label menunjukkan adanya perbedaan kadar aktual dengan kadar yang dicantumkan pada kemasan produk. Metode spektrofotometri UV-Vis menunjukkan linearitas yang sangat baik dengan persamaan regresi y = 0,0126x + 0,0286 dan koefisien korelasi (R²) sebesar 0,9967.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jamu pelangsing merupakan salah satu produk obat tradisional yang banyak digunakan masyarakat untuk menurunkan berat badan. Peredaran jamu pelangsing dengan klaim berlebih di marketplace menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan produk, terutama adanya penambahan Bahan Kimia Obat (BKO) seperti furosemid yang dilarang dalam obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menentukan kadar furosemid pada jamu pelangsing yang dijual di marketplace. Penelitian ini merupakan deskriptif eksperimental yang dilakukan di laboratorium dengan metode analisis kualitatif menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak tiga produk jamu pelangsing dari Shopee berdasarkan kriteria memiliki klaim berlebih dan tingkat penjualan tinggi. Fase gerak yang digunakan adalah etil asetat : metanol (6:4), identifikasi dilakukan berdasarkan nilai Rf dan pengamatan bercak di bawah sinar UV, sedangkan penetapan kadar dilakukan menggunakan kurva kalibrasi pada panjang gelombang maksimum 371 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tiga sampel yang diuji, hanya sampel B yang positif mengandung furosemid dengan nilai Rf sebesar 0,73 dan kadar sebesar 0,759% ± 0,044%, sedangkan sampel C dan S dinyatakan negatif. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 007 Tahun 2012 tentang obat tradisional, sehingga produk tersebut melanggar ketentuan karena mengandung BKO dan berpotensi membahayakan kesehatan konsumen
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dan mengevaluasi kadar vitamin C pada berbagai merek minuman yang mengklaim mengandung vitamin C yang beredar di minimarket daerah Ajibarang Kulon menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif-komparatif. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling sebanyak enam merek minuman yaitu Hemaviton C1000, You C1000, Oronamin C Drink, Adem Sari Vitamin C Herbal, Immunizer, dan Floridina. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan pereaksi Benedict dan kromatografi lapis tipis (KLT), sedangkan analisis kuantitatif dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksi amonium molibdat 5% pada panjang gelombang 570 nm. Hasil penelitian menunjukkan kadar vitamin C pada sampel A sebesar 0,062 mg/mL, sampel B sebesar 0,250 mg/mL, sampel C sebesar 9,625 mg/mL, sampel D sebesar 3,437 mg/mL, sampel E sebesar 9,250 mg/mL, dan sampel F sebesar 4,000 mg/mL. Hasil perbandingan dengan label menunjukkan adanya perbedaan kadar aktual dengan kadar yang dicantumkan pada kemasan produk. Metode spektrofotometri UV-Vis menunjukkan linearitas yang sangat baik dengan persamaan regresi y = 0,0126x + 0,0286 dan koefisien korelasi (R²) sebesar 0,9967.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jamu pelangsing merupakan salah satu produk obat tradisional yang banyak digunakan masyarakat untuk menurunkan berat badan. Peredaran jamu pelangsing dengan klaim berlebih di marketplace menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan produk, terutama adanya penambahan Bahan Kimia Obat (BKO) seperti furosemid yang dilarang dalam obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menentukan kadar furosemid pada jamu pelangsing yang dijual di marketplace. Penelitian ini merupakan deskriptif eksperimental yang dilakukan di laboratorium dengan metode analisis kualitatif menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak tiga produk jamu pelangsing dari Shopee berdasarkan kriteria memiliki klaim berlebih dan tingkat penjualan tinggi. Fase gerak yang digunakan adalah etil asetat : metanol (6:4), identifikasi dilakukan berdasarkan nilai Rf dan pengamatan bercak di bawah sinar UV, sedangkan penetapan kadar dilakukan menggunakan kurva kalibrasi pada panjang gelombang maksimum 371 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tiga sampel yang diuji, hanya sampel B yang positif mengandung furosemid dengan nilai Rf sebesar 0,73 dan kadar sebesar 0,759% ± 0,044%, sedangkan sampel C dan S dinyatakan negatif. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 007 Tahun 2012 tentang obat tradisional, sehingga produk tersebut melanggar ketentuan karena mengandung BKO dan berpotensi membahayakan kesehatan konsumen
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Krim pencerah wajah yang dijual secara daring berpotensi mengandung bahan berbahaya seperti hidrokuinon yang penggunaannya dibatasi dalam produk kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan dan menentukan kadar hidrokuinon pada krim pencerah merek X yang dijual di Shopee.penelitian dilakukan secara kualitatif menggunakan metode kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan kuantitatif menggunakan Spektrofotometri UV-Vis terhadap 4 sampel yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Analisis KLT dilakukan menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak metanol:kloroform (25:25), kemudian diamati pada sinar UV 254 nm. Penetapan kadar dilakukan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 295 nm. Hasil penelitian menunjukkan sampel C dan sampel D mengandung hidrokuinon dengan nilai Rf sebesar 0,8 mendekati nilai Rf baku hidrokuinon 0,91, sedangkan sampel A dan B negatif. Rata-rata kadar hidrokuinon pada sampel C sebesar 14,3975% ± 1,110% dan sampel D sebesar 16,545% ± 0,643%. Hasil uji Independent Sampel t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan kadar hidrokuinon antar kedua sampel (p=0,172), tetapi kadar keduanya jauh melebihi batas BPOM RI sebesr 0,02%. Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019, kedua sampel tidak memenuhi persyaratan keamanan kosmetik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jamu masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia dalam menjaga kesehatan. Namun demikian, tidak sedikit produsen jamu yang tidak bertanggung jawab dengan menambahkan Bahan Kimia Obat (BKO) seperti paracetamol dan antalgin ke dalam produk jamu pegal linu untuk memberikan efek yang lebih cepat dirasakan oleh konsumen. Padahal, penambahan BKO dalam jamu dilarang karena dapat membahayakan kesehatan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan paracetamol dan antalgin pada jamu pegal linu yang dijual di platform toko online Shopee, serta untuk mengetahui kadar dari masing-masing BKO tersebut. Metode yang digunakan meliputi analisis kualitatif berupa uji reaksi warna dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), serta analisis kuantitatif menggunakan Spektrofotometri UV-Vis. Sampel jamu pegal linu yang digunakan yaitu jamu dengan penjualan terlaris di Shopee. Berdasarkan hasil uji reaksi warna dan KLT, dua dari tiga sampel menunjukkan positif mengandung paracetamol dan antalgin. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa kadar paracetamol. Masing-masing sampel berturut-turut sebesar 0,29% ; 0,276% dan 0,665%. Sedangkan kadar antalgin berturut-turut sebesar 0,97% ; 0,56% dan 1,176%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa masih terdapat sampel pegal linu yang mengandung BKO paracetamol dan antalgin.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jamu masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia dalam menjaga kesehatan. Namun demikian, tidak sedikit produsen jamu yang tidak bertanggung jawab dengan menambahkan Bahan Kimia Obat (BKO) seperti paracetamol dan antalgin ke dalam produk jamu pegal linu untuk memberikan efek yang lebih cepat dirasakan oleh konsumen. Padahal, penambahan BKO dalam jamu dilarang karena dapat membahayakan kesehatan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan paracetamol dan antalgin pada jamu pegal linu yang dijual di platform toko online Shopee, serta untuk mengetahui kadar dari masing-masing BKO tersebut. Metode yang digunakan meliputi analisis kualitatif berupa uji reaksi warna dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), serta analisis kuantitatif menggunakan Spektrofotometri UV-Vis. Sampel jamu pegal linu yang digunakan yaitu jamu dengan penjualan terlaris di Shopee. Berdasarkan hasil uji reaksi warna dan KLT, dua dari tiga sampel menunjukkan positif mengandung paracetamol dan antalgin. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa kadar paracetamol. Masing-masing sampel berturut-turut sebesar 0,29% ; 0,276% dan 0,665%. Sedangkan kadar antalgin berturut-turut sebesar 0,97% ; 0,56% dan 1,176%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa masih terdapat sampel pegal linu yang mengandung BKO paracetamol dan antalgin.