Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

6 hasil
Subjek: Jamu
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis kandungan Furosemid pada jamu pelangsing yang dijual di marketplace menggunakan metode klt dan spektrofotometri uv- vis

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jamu pelangsing merupakan salah satu produk obat tradisional yang banyak digunakan masyarakat untuk menurunkan berat badan. Peredaran jamu pelangsing dengan klaim berlebih di marketplace menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan produk, terutama adanya penambahan Bahan Kimia Obat (BKO) seperti furosemid yang dilarang dalam obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menentukan kadar furosemid pada jamu pelangsing yang dijual di marketplace. Penelitian ini merupakan deskriptif eksperimental yang dilakukan di laboratorium dengan metode analisis kualitatif menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak tiga produk jamu pelangsing dari Shopee berdasarkan kriteria memiliki klaim berlebih dan tingkat penjualan tinggi. Fase gerak yang digunakan adalah etil asetat : metanol (6:4), identifikasi dilakukan berdasarkan nilai Rf dan pengamatan bercak di bawah sinar UV, sedangkan penetapan kadar dilakukan menggunakan kurva kalibrasi pada panjang gelombang maksimum 371 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tiga sampel yang diuji, hanya sampel B yang positif mengandung furosemid dengan nilai Rf sebesar 0,73 dan kadar sebesar 0,759% ± 0,044%, sedangkan sampel C dan S dinyatakan negatif. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 007 Tahun 2012 tentang obat tradisional, sehingga produk tersebut melanggar ketentuan karena mengandung BKO dan berpotensi membahayakan kesehatan konsumen

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS KANDUNGAN FUROSEMID PADA JAMU PELANGSING YANG DIJUAL DI MARKETPLACE MENGGUNAKAN METODE KLT DAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jamu pelangsing merupakan salah satu produk obat tradisional yang banyak digunakan masyarakat untuk menurunkan berat badan. Peredaran jamu pelangsing dengan klaim berlebih di marketplace menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan produk, terutama adanya penambahan Bahan Kimia Obat (BKO) seperti furosemid yang dilarang dalam obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menentukan kadar furosemid pada jamu pelangsing yang dijual di marketplace. Penelitian ini merupakan deskriptif eksperimental yang dilakukan di laboratorium dengan metode analisis kualitatif menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak tiga produk jamu pelangsing dari Shopee berdasarkan kriteria memiliki klaim berlebih dan tingkat penjualan tinggi. Fase gerak yang digunakan adalah etil asetat : metanol (6:4), identifikasi dilakukan berdasarkan nilai Rf dan pengamatan bercak di bawah sinar UV, sedangkan penetapan kadar dilakukan menggunakan kurva kalibrasi pada panjang gelombang maksimum 371 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tiga sampel yang diuji, hanya sampel B yang positif mengandung furosemid dengan nilai Rf sebesar 0,73 dan kadar sebesar 0,759% ± 0,044%, sedangkan sampel C dan S dinyatakan negatif. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 007 Tahun 2012 tentang obat tradisional, sehingga produk tersebut melanggar ketentuan karena mengandung BKO dan berpotensi membahayakan kesehatan konsumen

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis kualitatif dan kuantitatif Bahan Kimia Obat (BKO) Paracetamol dan Antalgin Pada Jamu Pegal Linu Yang Beredar di Toko Online Shopee dengan Metode spektrofotometri Uv-Vis

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jamu masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia dalam menjaga kesehatan. Namun demikian, tidak sedikit produsen jamu yang tidak bertanggung jawab dengan menambahkan Bahan Kimia Obat (BKO) seperti paracetamol dan antalgin ke dalam produk jamu pegal linu untuk memberikan efek yang lebih cepat dirasakan oleh konsumen. Padahal, penambahan BKO dalam jamu dilarang karena dapat membahayakan kesehatan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan paracetamol dan antalgin pada jamu pegal linu yang dijual di platform toko online Shopee, serta untuk mengetahui kadar dari masing-masing BKO tersebut. Metode yang digunakan meliputi analisis kualitatif berupa uji reaksi warna dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), serta analisis kuantitatif menggunakan Spektrofotometri UV-Vis. Sampel jamu pegal linu yang digunakan yaitu jamu dengan penjualan terlaris di Shopee. Berdasarkan hasil uji reaksi warna dan KLT, dua dari tiga sampel menunjukkan positif mengandung paracetamol dan antalgin. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa kadar paracetamol. Masing-masing sampel berturut-turut sebesar 0,29% ; 0,276% dan 0,665%. Sedangkan kadar antalgin berturut-turut sebesar 0,97% ; 0,56% dan 1,176%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa masih terdapat sampel pegal linu yang mengandung BKO paracetamol dan antalgin.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Cemaran Mikroba Pada Jamu Tradisional di Kecamatan Karanglewas Menggunakan Metode ALT

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jamu tradisional merupakan salah satu jenis obat tradisional turun temurun yang terbuat dari bahan-bahan alam seperti rempah-rempah, daun, bunga, dan akar tanaman. Jamu banyak diminati masyarakat sebagai pilihan pengobatan alternatif. Namun karena cara pembuatan jamu tidak melalui proses sterilisasi modern, jamu bisa terkontaminasi oleh mikroba. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat cemaran mikroba pada jamu tradisional yang dijual di Pasar Karanglewas menggunakan metode Angka Lempeng Total (ALT). Sampel yang diambil adalah lima jamu kunyit asam, masing-masing diambil dari lima penjual berbeda dengan Teknik pengambilan total sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada pukul 05. 00 WIB. Hasil uji ALT menunjukkan bahwa semua sampel memenuhi standar kotoran mikroba sesuai ketentuan BPOM RI Nomor 32 Tahun 2019, yaitu tidak melebihi batas maksimal cemaran mikroba sebesar 5 × 10⁷ koloni/gram. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jamu kunyit asam yang dijual di Pasar Karanglewas dalam kondisi layak konsumsi dari aspek mutu mikrobiologis.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS BAHAN KIMIA OBAT (BKO) PARACETAMOL DAN ANTALGIN PADA JAMU PEGAL LINU YANG BEREDAR DI TOKO ONLINE DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV - VIS

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jamu masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia dalam menjaga kesehatan. Namun demikian, tidak sedikit produsen jamu yang tidak bertanggung jawab dengan menambahkan Bahan Kimia Obat (BKO) seperti paracetamol dan antalgin ke dalam produk jamu pegal linu untuk memberikan efek yang lebih cepat dirasakan oleh konsumen. Padahal, penambahan BKO dalam jamu dilarang karena dapat membahayakan kesehatan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan paracetamol dan antalgin pada jamu pegal linu yang dijual di platform toko online Shopee, serta untuk mengetahui kadar dari masing-masing BKO tersebut. Metode yang digunakan meliputi analisis kualitatif berupa uji reaksi warna dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), serta analisis kuantitatif menggunakan Spektrofotometri UV-Vis. Sampel jamu pegal linu yang digunakan yaitu jamu dengan penjualan terlaris di Shopee. Berdasarkan hasil uji reaksi warna dan KLT, dua dari tiga sampel menunjukkan positif mengandung paracetamol dan antalgin. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa kadar paracetamol. Masing-masing sampel berturut-turut sebesar 0,29% ; 0,276% dan 0,665%. Sedangkan kadar antalgin berturut-turut sebesar 0,97% ; 0,56% dan 1,176%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa masih terdapat sampel pegal linu yang mengandung BKO paracetamol dan antalgin.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Cemaran Mikroba Pada Jamu Tradisional di Pasar Karanglewas Menggunakan Metode ALT

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jamu tradisional merupakan salah satu jenis obat tradisional turun temurun yang terbuat dari bahan alam seperti rempah, daun, bunga, dan akar tanaman. Jamu banyak diminati masyarakat sebagai pilihan pengobatan alternatif. Namun pembuatan jamu masih menggunakan cara tradisional membuat sebagian masyarakat berasumsi bahwa jamu memiliki kualitas yang kurang baik sehingga memungkinkan terjadinya kontaminasi oleh mikroba. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidaknya cemaran mikroba pada jamu tradisional yang beredar di Pasar Karanglewas. Penelitian ini dilakukan di laboratorium mikrobiologi STIKes Ibnu Sina Ajibarang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan metode ALT. Penyajian data pada penelitian ini menggunakan Microsoft Excel. Hasil dari penelitian ini menunjukan cemaran mikroba pada semua sampel jamu (sampel A, B, C, D, dan E) yang beredar di Pasar Karanglewas dilihat dari nilai ALT memenuhi syarat sesuai ketentuan BPOM Nomor 32 Tahun 2019, yaitu tidak melebih batas maksimal cemaran mikroba sebesar 5 × 10⁷ koloni/ml. Untuk nilai ALT paling tinggi ada pada sampel D dengan nilai ALT 20,6× 104 koloni/ml.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail