PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL UNTUK PENDERITA DIABETES MELLITUS
<p> Untuk memberikan informasi kepada masyarakat terhadap penggunaan obat tradisional untuk penderita penyakit diabetes militus</p>
Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.
<p> Untuk memberikan informasi kepada masyarakat terhadap penggunaan obat tradisional untuk penderita penyakit diabetes militus</p>
Peningkatan prevalensi diabetes melitus memicu pencarian alternatif pengobatan berbahan alam yang minim efek samping dibandingkan obat sintetik. Salah satu tanaman yang berpotensi secara empiris adalah daun bayam duri (Amaranthus spinosus L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antidiabetes infusa daun bayam duri terhadap mencit jantan yang diinduksi hiperglikemia melalui pemberian dexamethasone. Metode penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan 25 ekor mencit jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok: kontrol negatif (aquadest), kontrol positif (glibenklamid), serta tiga kelompok perlakuan infusa daun bayam duri konsentrasi 15%, 25%, dan 35%. Kondisi hiperglikemia dicapai melalui induksi dexamethasone dan glukosa. Kadar glukosa darah diukur secara berkala pada hari ke-0, ke-7, dan ke-14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh konsentrasi infusa mampu menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan dibandingkan kontrol negatif. Efek penurunan glukosa darah meningkat seiring dengan bertambahnya konsentrasi. Konsentrasi 35% (F4) ditemukan sebagai dosis paling optimal karena mampu menurunkan kadar glukosa hingga 31,5% (rerata akhir 101,0 mg/dL). Kesimpulannya, infusa daun bayam duri memiliki aktivitas antidiabetes yang signifikan pada model resistensi insulin
Diabetes merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan hiperglikemia. Pengobatan DM tipe 2 biasanya menggunakan obat-obat sintesis yang memiliki efek samping. Obat penghambat enzim Dipeptidyl Peptidase IV (DPP-IV) belum banyak dikaji dan potensial dalam hipoglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji isolat senyawa turunan flavonoid dan alkaloid daun pepaya dalam menghambat enzim DPP-IV. Metode in silico melalui molecular docking menjadi metode yang paling relevan dalam upaya penemuan obat baru. Molecular docking dilakukan melalui beberapa tahap diantaranya pemodelan dan optimasi struktur senyawa, preparasi protein target dan ligan, validasi docking, proses docking, dan visualisasi interaksi serta analisis ADME-T. Hasil penelitian menunjukan bahwa semua senyawa turunan flavonoid daun pepaya yaitu epimedin, eupatolitin, methyl ophiopogonone b, bavachin, norcimifugin dengan nilai ΔG berturut-turut sebesar -129.14 kkal/mol; -104.82 kkal/mol; -98.5 kkal/mol; -98.92 kkal/mol; -95.71 kkal/mol dan 5 senyawa turunan alkaloid daun pepaya yaitu peimisine, 1- carbomethoxy-β-carboline, dicentrine, codonopsine, carpaine dengan nilai ΔG berturut-turut sebesar -102.88 kkal/mol; -86.67 kkal/mol; -85.84 kkal/mol; -85.7 kkal/mol; -85.1 kkal/mol, berpontensi sebagai antidiabetik. Analisis ADME-T dari senyawa turunan daun pepaya menunjukan bahwa, mayoritas senyawa terabsobsi melalui gastrointestinal, terdistribusi, dan metabolisme dengan bantuan enzim CYP450 serta beberapa senyawa bersifat toksik, tidak bersifat karsinogenik, dan tidak bersifat mutagenik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa senyawa tersebut dapat menghambat enzim DPP-IV dan harus dilakukan perbaikan struktur agar senyawa tidak bersifat toksik, karsinogenik, dan mutagenik agar dapat dijadikan sebagai kandidat obat antidiabetik.
Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan hiperglikemia. Pengobatan DM tipe II biasanya menggunakan obat- obat sintesis yang memiliki efek samping masalah pencernaan, risiko hipoglikemia, serta potensi dampak pada organ-organ vital seperti hati dan ginjal. Obat penghambat enzim Dipeptidyl Peptidase 4 (DPP-4) belum banyak dikaji dan potensial dalam hipoglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji senyawa turunan antosianin dari biji jamblang (Syzygium cumini L.) dalam menghambat enzim DPP-4. Metode in silico melalui molekular docking menjadi metode yang paling relevan dalam upaya penemuan obat baru. Molecular docking dilakukan melalui beberapa tahap diantaranya pemodelan dan optimasi struktur senyawa, preparasi protein target dan ligan, validasi docking, proses docking, dan visualisasi interaksi serta analisis ADMET. Hasil penelitian menunjukan bahwa semua senyawa antosianin biji jamblang (Syzygium cumini L.) berpotensi sebagai antidiabetes tipe II, yaitu cyanidin-3,5-O-diglucoside, delphinidin-3,5-O-diglucoside, delphinidin-3-O-glucoside, malvidin-3,5-O-diglucoside, petunidin-3,5-Odiglucoside, dan peonidin-3,5-O-diglucoside dengan nilai energi ikatan berturut-turut sebesar -165,79; -140,92: -170,17: -166,44: -153: -156,9: -81,5 kkal/mol. Analisis ADMET dari 6 senyawa antosianin biji jamblang (Syzygium cumini L.) terabsorbsi rendah melalui gastrointestinal, Semua senyawa bersifat non-substrat terhadap p-gp, non BBB, dan tidak bersifat inhibitor terhadap CYP1A2, CYP2C19, CYP2C9, CYP2D6, CYP3A4 dan mempunyai bioavailabilitas yang rendah ditunjukan dengan nilai bioavailabilitas dibawah 0,55. Semua senyawa mempunyai nilai Log Kp > -2,5. Sehingga dapat diartikan bahwa semua senyawa tersebut mempunyai permeabilitas yang baik semua senyawa dan berdasarkan prediksi toksisitas memiliki toksisitas yang tinggi (class III) akan tetapi tidak besifat karsinogenotoksik dan tidak bersifat nonkarsinogentoksik, serta senyawa tersebut aman apabila dibuat sediaan oral. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa senyawa delphinidin-3-O-glucoside paling berpotensi sebagai antidiabetes tipe II berdasarkan nilai energi ikatan, dan cyanidin-3,5-O-diglucoside berpotensi sebagai antidiabetes tipe II berdasarkan kemiripan residu asam amino.