ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kanker kolorektal merupakan salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia, dan reseptor Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) menjadi target terapi penting karena berperan pada proliferasi sel kanker. Chromolaena odorata (balakacida) mengandung senyawa fitokimia yang berpotensi sebagai inhibitor EGFR alami. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi afinitas pengikatan dan interaksi molekuler 15 senyawa dominan C. odorata terhadap EGFR, serta memprediksi profil drug-likeness dan ADMET senyawa kandidat terbaik. Penelitian merupakan studi in silico dengan penapisan virtual berbasis structure-based drug design menggunakan metode molecular docking terhadap EGFR (PDB ID: 3POZ), dengan Gefitinib dan Erlotinib sebagai kontrol positif. Protokol divalidasi melalui redocking ligan ko-kristal (RMSD 1,9216 Å 2,0 Å). Drug-likeness dinilai dengan Lipinski’s Rule of Five, dan profil ADMET diprediksi menggunakan pkCSM, SwissADME, ProTox-3, dan Toxtree. Hasil docking menunjukkan pola afinitas flavonoid > asam fenolik > terpenoid. Rutin memiliki afinitas tertinggi (S = -9,6027 kkal/mol), setara kontrol positif Gefitinib (-9,6051 kkal/mol). Evaluasi Lipinski menunjukkan 14 dari 15 senyawa memenuhi kriteria; hanya Rutin yang tidak memenuhi. Dengan mempertimbangkan keseimbangan afinitas, drug-likeness, farmakokinetik, dan keamanan, Hesperetin (S = -7,1879 kkal/mol) dan Eriodictyol (S = -6,9400 kkal/mol) ditetapkan sebagai kandidat inhibitor EGFR terbaik, dengan profil keamanan lebih baik dibandingkan Gefitinib dan Erlotinib. Kedua senyawa berpotensi dikembangkan sebagai inhibitor EGFR alami untuk kanker kolorektal dan direkomendasikan untuk pengujian in vitro lebih lanjut.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
PENAPISAN VIRTUAL SENYAWA DOMINAN BALAKACIDA (Chromolaena odorata) SEBAGAI INHIBITOR EGFR UNTUK KANKER KOLOREKTAL
FATKHURROKHMAN
ABSTRAK
Kanker kolorektal merupakan salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia, dan reseptor Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) menjadi target terapi penting karena berperan pada proliferasi sel kanker. Chromolaena odorata (balakacida) mengandung senyawa fitokimia yang berpotensi sebagai inhibitor EGFR alami. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi afinitas pengikatan dan interaksi molekuler 15 senyawa dominan C. odorata terhadap EGFR, serta memprediksi profil drug-likeness dan ADMET senyawa kandidat terbaik. Penelitian merupakan studi in silico dengan penapisan virtual berbasis structure-based drug design menggunakan metode molecular docking terhadap EGFR (PDB ID: 3POZ), dengan Gefitinib dan Erlotinib sebagai kontrol positif. Protokol divalidasi melalui redocking ligan ko-kristal (RMSD 1,9216 Å < 2,0 Å). Drug-likeness dinilai dengan Lipinski’s Rule of Five, dan profil ADMET diprediksi menggunakan pkCSM, SwissADME, ProTox-3, dan Toxtree. Hasil docking menunjukkan pola afinitas flavonoid > asam fenolik > terpenoid. Rutin memiliki afinitas tertinggi (S = -9,6027 kkal/mol), setara kontrol positif Gefitinib (-9,6051 kkal/mol). Evaluasi Lipinski menunjukkan 14 dari 15 senyawa memenuhi kriteria; hanya Rutin yang tidak memenuhi. Dengan mempertimbangkan keseimbangan afinitas, drug-likeness, farmakokinetik, dan keamanan, Hesperetin (S = -7,1879 kkal/mol) dan Eriodictyol (S = -6,9400 kkal/mol) ditetapkan sebagai kandidat inhibitor EGFR terbaik, dengan profil keamanan lebih baik dibandingkan Gefitinib dan Erlotinib. Kedua senyawa berpotensi dikembangkan sebagai inhibitor EGFR alami untuk kanker kolorektal dan direkomendasikan untuk pengujian in vitro lebih lanjut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PENAPISAN VIRTUAL SENYAWA DOMINAN BALAKACIDA (Chromolaena odorata) SEBAGAI INHIBITOR EGFR UNTUK KANKER KOLOREKTAL
FATKHURROKHMAN
ABSTRAK
Kanker kolorektal merupakan salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia, dan reseptor Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) menjadi target terapi penting karena berperan pada proliferasi sel kanker. Chromolaena odorata (balakacida) mengandung senyawa fitokimia yang berpotensi sebagai inhibitor EGFR alami. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi afinitas pengikatan dan interaksi molekuler 15 senyawa dominan C. odorata terhadap EGFR, serta memprediksi profil drug-likeness dan ADMET senyawa kandidat terbaik. Penelitian merupakan studi in silico dengan penapisan virtual berbasis structure-based drug design menggunakan metode molecular docking terhadap EGFR (PDB ID: 3POZ), dengan Gefitinib dan Erlotinib sebagai kontrol positif. Protokol divalidasi melalui redocking ligan ko-kristal (RMSD 1,9216 Å < 2,0 Å). Drug-likeness dinilai dengan Lipinski’s Rule of Five, dan profil ADMET diprediksi menggunakan pkCSM, SwissADME, ProTox-3, dan Toxtree. Hasil docking menunjukkan pola afinitas flavonoid > asam fenolik > terpenoid. Rutin memiliki afinitas tertinggi (S = -9,6027 kkal/mol), setara kontrol positif Gefitinib (-9,6051 kkal/mol). Evaluasi Lipinski menunjukkan 14 dari 15 senyawa memenuhi kriteria; hanya Rutin yang tidak memenuhi. Dengan mempertimbangkan keseimbangan afinitas, drug-likeness, farmakokinetik, dan keamanan, Hesperetin (S = -7,1879 kkal/mol) dan Eriodictyol (S = -6,9400 kkal/mol) ditetapkan sebagai kandidat inhibitor EGFR terbaik, dengan profil keamanan lebih baik dibandingkan Gefitinib dan Erlotinib. Kedua senyawa berpotensi dikembangkan sebagai inhibitor EGFR alami untuk kanker kolorektal dan direkomendasikan untuk pengujian in vitro lebih lanjut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan
hiperglikemia. Pengobatan DM tipe II biasanya menggunakan obat-obat sintesis
dengan berbagai efek samping. Obat penghambat enzim Dipeptidyl Peptidase IV
(DPP-IV) belum banyak dikaji dan potensial dalam hipoglikemia. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji senyawa turunan flavonoid dan alkaloid daun pepaya
dalam menghambat enzim DPP-IV melalui molecular docking dan mengetahui
profil ADME-T. Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia STIKes Ibnu
Sina Ajibarang. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental deskripif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa semua senyawa turunan flavonoid daun pepaya
yaitu epimedin, eupatolitin, methyl ophiopogonone b, bavachin, norcimifugin
dengan nilai ΔG berturut-turut dalam kkal/mol sebesar -129.14; -104.82; -98.5; -
98.92; -95 berpontensi sebagai antidiabetik. Kemudian senyawa turunan alkaloid
daun pepaya yaitu peimisine, 1-carbomethoxy-β-carboline, dicentrine,
codonopsine, carpaine dengan nilai ΔG berturut-turut dalam kkal/mol sebesar -
102.88; -86.67; -85.84; -85.7; -85.1 berpontensi sebagai antidiabetik. Analisis
ADME-T dari senyawa turunan flavonoid dan alkaloid daun pepaya menunjukan
mayoritas senyawa terabsorbsi melalui gastrointestinal, terdistribusi melalui blood
brain barrier, termetabolisme dengan bantuan enzim CYP450, dan dapat
diekskresikan oleh tubuh. Beberapa senyawa bersifat toksik, tidak bersifat
karsinogenik, dan tidak bersifat mutagenik.