ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan
hiperglikemia. Pengobatan DM tipe II biasanya menggunakan obat-obat sintesis
dengan berbagai efek samping. Obat penghambat enzim Dipeptidyl Peptidase IV
(DPP-IV) belum banyak dikaji dan potensial dalam hipoglikemia. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji senyawa turunan flavonoid dan alkaloid daun pepaya
dalam menghambat enzim DPP-IV melalui molecular docking dan mengetahui
profil ADME-T. Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia STIKes Ibnu
Sina Ajibarang. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental deskripif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa semua senyawa turunan flavonoid daun pepaya
yaitu epimedin, eupatolitin, methyl ophiopogonone b, bavachin, norcimifugin
dengan nilai ΔG berturut-turut dalam kkal/mol sebesar -129.14; -104.82; -98.5; -
98.92; -95 berpontensi sebagai antidiabetik. Kemudian senyawa turunan alkaloid
daun pepaya yaitu peimisine, 1-carbomethoxy-β-carboline, dicentrine,
codonopsine, carpaine dengan nilai ΔG berturut-turut dalam kkal/mol sebesar -
102.88; -86.67; -85.84; -85.7; -85.1 berpontensi sebagai antidiabetik. Analisis
ADME-T dari senyawa turunan flavonoid dan alkaloid daun pepaya menunjukan
mayoritas senyawa terabsorbsi melalui gastrointestinal, terdistribusi melalui blood
brain barrier, termetabolisme dengan bantuan enzim CYP450, dan dapat
diekskresikan oleh tubuh. Beberapa senyawa bersifat toksik, tidak bersifat
karsinogenik, dan tidak bersifat mutagenik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Luka adalah keadaan rusaknya sebagian jaringan tubuh yang disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan. Penggunaan obat luka pada kulit umumnya menggunakan sediaan berupa krim, gel, salep atau larutan baik dari bahan sintesis maupun alami. Penggunaan obat sintesis dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif pengobatan lain dengan memanfaatkan bahan alam. Daun Talas (Colocasia esculenta L. Schott) memiliki kandungan senyawa berupa alkaloid, flavonoid, dan saponin yang memiliki peran dalam penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol daun talas (Colocasia esculenta L. Schott) dapat diformulasikan sebagai plester patch dan menguji efektivitas plester patch dalam menyembuhkan luka sayat. Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium STIKes Ibnu Sina Ajibarang. Jenis penelitian yaitu eksperimental dengan variasi konsentrasi ekstrak etanol daun talas (F0=0%; F1=2,5%; F2=5%) serta pengujian penyembuhan luka sayat dengan pemberian patch dan pengamatan penyembuhan luka dilakukan selama 14 hari. Parameter yang diamati meliputi uji fisik plester patch, panjang dan persentase penyembuhan luka sayat. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan SPSS 25 dengan uji Paired Sample T-Test dan Post Hoc Least Significant Difference (LSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan F1 dan F2 pada uji organoleptik memiliki warna, bau dan bentuk yang sama (warna hijau tua, bentuk transdermal, dan bau khas daun); untuk uji pH, uji keseragaman bobot, uji ketebalan dan uji ketahanan lipat memenuhi persyaratan, dari hasil tersebut disimpulkan ekstrak etanol daun talas dapat dibuat sediaan patch. Hasil penelitian menunjukkan panjang luka sayat kelompok F0, F1 dan F2 berbeda signifikan pada hari ke-3, 6, 9, 12, dan 14 (p0,05). Hasil analisis data penyembuhan luka sayat pada hari terakhir pengamatan (hari ke-14) menunjukkan perbedaan signifikan antara F0, F1 dan F2 (p value 0,05).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kosmetik merupakan sediaan yang digunakan pada bagian luar tubuh manusia. Kosmetik dapat mengubah penampilan dan mempercantik diri. Hal ini terbukti dengan munculnya berbagai macam kosmetik salah satunya blush on. Blush on merupakan sediaan kosmetik yang digunakan untuk mewarnai pipi dengan memberikan sentuhan artistik. Blush on memiliki berbagai warna seperti merah, merah muda, jingga dan kecoklatan. Pewarna pada blush on umumnya menggunakan pewarna sintesis dimana jika digunakan dalam jangka panjang menimbulkan iritasi pada kulit, sehingga perlu adanya penggunaan pewarna alami. Salah satu tanaman penghasil pwearna alami adalah daun inai (Lawsonia inermis L.). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah esktrak daun inai (Lawsonia inermis L.) dapat diformulasikan dalam sediaan blush on dan untuk mengetahui formulasi manakah yang paling bagus untuk dijadikan sediaan blush on. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmasi SMK Muhammadiyah 03 Purbalingga. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Variable bebas dalam penelitian ini adalah variasi konsentrasi ekstrak daun inai (F0 = 0% ; F1 = 1% ; F2 = 3% ; F3 = 5%). Metode yang digunakan yaitu maserasi. Berdasarkan hasil penelitian ekstrak daun inai dapat diformulasikan pada formulasi F1, F2 dan F3. Hal ini ditunjukan hasil uji organoleptis memiliki perbedaan warna pada setiap konsentrasi, memiliki bentuk semi padat dan bau yang khas. Uji homogenitas menunjukan hasil yang homogen. Uji daya sebar menunjukan hasil yang baik dengan nilai 5,4 – 5,9. Uji pH memenuhi persyaratan dengan nilai pH 5,23 – 5,46. Uji tipe krim menunjukan hasil tipe minyak dalam air. Uji hedonik menunjukan kesukaan panelis pada F2 dan F3. Dari hasil tersebut formulasi yang bagus untuk dijadikan sediaan blush on adalah F3 dan F2. Hal ini dikarenakan dari hasil uji hedonik presentase kesukaan paling tinggi pertama pada F3 kemudian tertinggi ke dua pada F2. Analisis data pada penilitian ini menggunakan Microsoft Exel.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kulit pisang diketahui memiliki kandungan senyawa yaitu fenolitik dan bahan aktif seperti tanin dan flavonoid. Kandungan tanin paling banyak di ketahui pada kulit pisang yang belum matang dari pada kulit pisang yang sudah matang, hal ini karena terjadinya peningkatan etanol 70 kali lipat pada proses pematangan pisang yang menyebabkan turunnya kandungan tannin. Saponin dan alkaloid mempengaruhi membran sel, tanin menghambat sistesis kitin di dinding sel sedangkan flavonoid menunjukan proses supresif terhadap adhesi mikroorganisme. Acne vulgaris merupakan infeksi berupa peradangan poliseboroik disertai penyumbatan dan penumpukan keratin yang disebabkan oleh bakteri propionibacteria acnes, staphylococcus epidermidis dan staphylococcus aureus. Bakteri utama penyebab jerawat adalah propionibacteria acnes. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah ekstrak etanol kulit pisang tanduk mentah (Musa acuminata x Musa balbisiana) dapat diformulasikan kedalam sediaan krim serta mengetahui pengaruh krim antibakteri ekstrak etanol kulit pisang tanduk mentah (Musa acuminata x Musa balbisiana) terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Farmakognosi dan Mikrobiologi STIKes Ibnu Sina Ajibarang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksperimental menggunakan metode difusi sumuran dengan perbedaan konsentrasi (F0= 0%; F1 = 5%; F2 = 10%; F3 = 15%; K+ = Klindamicin). Kemudian Dilakukan uji homogenitas dan normalitas sebagai persyarat analisis data. Analisis data menggunakan uji One Way ANOVA SPSS 25, dengan hasil data disajikan dalam tabel dan gambar.