Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

3 hasil
Subjek: RSUD
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

cost effectiveness analysis (CEA) terapi antibiotik pada pengobatan penyakit pneumonia di RSUD majenang tahun 2024

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang memiliki angka kejadian tinggi di RSUD Majenang. Penggunaan terapi antibiotik yang tepat dan efisien sangat penting dalam mengoptimalkan luaran klinis pasien serta mengendalikan biaya pelayanan kesehatan, khususnya pada pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN/BPJS). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya dari penggunaan antibiotik ceftriaxone injeksi dan levofloxacin infus pada pasien pneumonia rawat inap di RSUD Majenang tahun 2024. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif dengan rancangan studi observasional secara retrospektif. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik total sampling terhadap rekam medis dan data keuangan pasien rawat inap yang memenuhi kriteria inklusi, dengan total 35 sampel pasien (20 pasien ceftriaxone injeksi dan 15 pasien levofloxacin infus). Parameter yang dianalisis meliputi total biaya medis langsung, efektivitas klinis berdasarkan lama rawat inap (Length of Stay/LOS), serta kalkulasi Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER). Hasil: Karakteristik pasien didominasi oleh laki-laki (57,14%) dan kelompok usia lanjut (54,29%). Rata-rata lama rawat inap (Length of Stay) kelompok ceftriaxone injeksi adalah 3,55 hari dengan rata-rata total biaya medis langsung sebesar Rp6.029.490,-. Pada kelompok levofloxacin infus, rata-rata lama rawat inap adalah 4,00 hari dengan rata-rata total biaya medis langsung sebesar Rp6.388.413,-. Hasil perhitungan ACER untuk ceftriaxone injeksi dan levofloxacin infus masing-masing sebesar Rp1.698.448,-/hari dan Rp1.597.103,-/hari. Nilai ICER yang diperoleh adalah sebesar Rp797.607,-. Berdasarkan pemetaan Cost-Effectiveness Plane (CEP), ceftriaxone berada pada Kuadran II (Dominan). Kesimpulan: Penggunaan antibiotik ceftriaxone injeksi lebih cost-effective dibandingkan levofloxacin infus pada pengobatan pasien pneumonia rawat inap di RSUD Majenang tahun 2024 karena menghasilkan total biaya medis langsung yang lebih rendah dan lama perawatan yang lebih singkat.

9 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN SKIZOFRENIA DENGAN PENYAKIT PENYERTA DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANYUMAS PERIODE TAHUN 2023

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skizofrenia adalah gangguan mental yang parah dan berjangka panjang yang sering didiagnosis pada masa remaja akhir atau dewasa muda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi Drug Related Problems pada pasien skizofrenia dengan penyakit penyerta di RSUD Banyumas. Drug Related Problems (DRPs) adalah kejadian buruk yang terjadi pada pasien selama terapi obat dan dapat mempengaruhi hasil pengobatan. Jenis penelitian ini merupakan analisis deskriptif menggunakan rancangan studi kasus retrospektif dengan pengumpulan data sekunder berupa data rekam medik pasien. Total jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 105 rekam medik pasien menunjukkan bahwa pasien skizofenia dengan penyakit penyerta di RSUD Banyumas berjenis kelamin laki-laki (60%) dengan rentang usia 25-44 tahun (41,90%), kejadian DRPs pada interaksi obat (86,07%) dengan tingkat keparahan kategori moderat (86%).

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Hubungan kepatuhan konsumsi iron chelator dengan kadar feritin pada pasien talasemia beta mayor anak di instalasi talasemia termadu RSUD Banyumas

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Talasemia beta mayor merupakan penyakit anemia hemolitik akibat produksi rantai globin beta terganggu sehingga terjadi penurunan produksi hemoglobin yang menyebabkan penderita memerlukan transfusi sel darah merah secara reguler dengan konsekuensi terjadi kelebihan kadar serum feritin. Penderita perlu patuh dalam mengonsumsi iron chelator agar kadar serum feritin tetap pada nilai yang disarankan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kepatuhan konsumsi iron chelator dengan kadar feritin pada pasien talasemia beta mayor anak di Instalasi Thalasemia Terpadu RSUD Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode analisis observasional dengan pendekatan cross-secsional. Sebanyak 90 pasien anak dengan talasemia beta mayor yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan kepatuhan konsumsi iron chelator dengan kadar feritin (p = 0,000; OR = 10,323). Kesimpulan yang didapatkan adalah pasien yang patuh terhadap konsumsi iron chelator berpeluang 10,323 kali memiliki kadar feritin yang rendah daripada pasien yang tidak patuh terhadap konsumsi iron chelator

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail