BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Krim merupakan sediaan semisolid berupa emulsi kental yang mengandung air tidak lebih dari 60% dan ditujukan untuk pemakaian luar. Daun buncis mengandung senyawa flavonoid, tannin dan tripenoid yang dapat digunakan sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol 70% daun buncis dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dan untuk mengetahui apakah terdapat aktivitas antibakteri pada sediaan krim ekstrak etanol 70% daun buncis. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Mikrobiologi, Kimia dan Teknologi Farmasi Universitas Ibnu Sina Ajibaranang. Jenis penelitian merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan metode difusi sumuran pada uji aktivitas antibakteri dan diuji sifat fisik sediaan yaitu uji organoleptik, pemeriksaan pH, daya sebar, daya lekat, viskositas. Analisis data pada penelitian ini menggunakan SPSS 27 pada uji one way anova dan uji T tidak Berpasangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ekstrak etanol 70% daun buncis tidak dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan krim pada semua perlakukan (F1, F2 dan F3), hal ini disebabkan karena uji daya sebar tidak memenuhi persyaratan yang baik pada sediaan krim dan memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter F1 1,63mm±0,84mm, F2 3,08mm±1,35mm dan F3 1,8±0,66mm yang termasuk dalam kategori lemah. Hasil analisis menunjukan bahwa krim ekstrak etanol daun buncis memiliki perbedaan siginifikan sebesar nilai signifikan <0.001(p<0,05)
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Krim merupakan sediaan semisolid berupa emulsi kental yang mengandung air tidak lebih dari 60% dan ditujukan untuk pemakaian luar. Sediaan krim memiliki keuntungan yaitu mudah menyebar rata, mudah dibersihkan atau dicuci, praktis dan cara kerjanya berlangsung pada jaringan setempat. Daun buncis mengandung senyawa flavonoid, tannin dan tripenoid yang dapat digunakan sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol daun buncis dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dan untuk mengetahui apakah terdapat aktivitas antibakteri pada sediaan krim ekstrak etanol daun buncis. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental. Kemudian dilakukan uji organoleptik, pemeriksaan Ph, daya sebar, daya lekat, viskositas dan diuji aktivitas antibakteri dengan difusi sumuran. Penelitian ini didapatkan hasil bahwa ekstrak etanol daun buncis dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dan memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter F1 7,44mm±1,45mm, F2 9,26mm±2,12mm dan F3 7,61±0,05mm yang termasuk dalam kategori sedang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun kucai (Allium tuberosum) kaya akan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, fenolik, tanin, saponin, dan alkaloid yang berpotensi sebagai bahan aktif topikal. Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui apakah ekstrak etanol 96% daun kucai dapat diformulasikan menjadi sediaan krim serta menentukan konsentrasi ekstrak yang paling stabil dan memiliki sifat fisik terbaik. Penelitian dilakukan di laboratorium teknologi sediaan farmasi dan laboratorium farmasetika Universitas Ibnu Sina Ajibarang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan membuat beberapa formulasi krim Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium. Ekstraksi daun kucai dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Sediaan krim tipe minyak dalam air (M/A) dibuat dalam empat formulasi konsentrasi ekstrak, yaitu F0 (0%), F1 (1%), F2 (3%), dan F3 (5%). Evaluasi sifat fisik krim meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, tipe krim, uji iritasi, serta uji stabilitas dipercepat (cycling test) selama 6 siklus. Analisis data pada penelitian ini menggunakan SPSS 25 meliputi uji T tidak berpasangan, uji mann-whitney dan uji T berpasangan. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% daun kucai dapat diformulasikan menjadi sediaan krim. Formula 3 (F3) dengan konsentrasi ekstrak 5% merupakan formulasi terbaik dan paling stabil berdasarkan keseluruhan hasil evaluasi sifat fisik.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Daun kucai (Allium tuberosum) kaya akan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, fenolik, tanin, saponin, dan alkaloid yang berpotensi sebagai bahan aktif topikal. Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui apakah ekstrak etanol 96% daun kucai dapat diformulasikan menjadi sediaan krim serta menentukan konsentrasi ekstrak yang paling stabil dan memiliki sifat fisik terbaik. Penelitian dilakukan di laboratorium teknologi sediaan farmasi dan laboratorium farmasetika Universitas Ibnu Sina Ajibarang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan membuat beberapa formulasi krim Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium. Ekstraksi daun kucai dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Sediaan krim tipe minyak dalam air (M/A) dibuat dalam empat formulasi konsentrasi ekstrak, yaitu F0 (0%), F1 (1%), F2 (3%), dan F3 (5%). Evaluasi sifat fisik krim meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, tipe krim, uji iritasi, serta uji stabilitas dipercepat (cycling test) selama 6 siklus. Analisis data pada penelitian ini menggunakan SPSS 25 meliputi uji T tidak berpasangan, uji mann-whitney dan uji T berpasangan. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% daun kucai dapat diformulasikan menjadi sediaan krim. Formula 3 (F3) dengan konsentrasi ekstrak 5% merupakan formulasi terbaik dan paling stabil berdasarkan keseluruhan hasil evaluasi sifat fisik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Krim pencerah wajah yang dijual secara daring berpotensi mengandung bahan berbahaya seperti hidrokuinon yang penggunaannya dibatasi dalam produk kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan dan menentukan kadar hidrokuinon pada krim pencerah merek X yang dijual di Shopee.penelitian dilakukan secara kualitatif menggunakan metode kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan kuantitatif menggunakan Spektrofotometri UV-Vis terhadap 4 sampel yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Analisis KLT dilakukan menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak metanol:kloroform (25:25), kemudian diamati pada sinar UV 254 nm. Penetapan kadar dilakukan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 295 nm. Hasil penelitian menunjukkan sampel C dan sampel D mengandung hidrokuinon dengan nilai Rf sebesar 0,8 mendekati nilai Rf baku hidrokuinon 0,91, sedangkan sampel A dan B negatif. Rata-rata kadar hidrokuinon pada sampel C sebesar 14,3975% ± 1,110% dan sampel D sebesar 16,545% ± 0,643%. Hasil uji Independent Sampel t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan kadar hidrokuinon antar kedua sampel (p=0,172), tetapi kadar keduanya jauh melebihi batas BPOM RI sebesr 0,02%. Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019, kedua sampel tidak memenuhi persyaratan keamanan kosmetik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Luka sayat merupakan salah satu jenis luka terbuka yang berisiko mengalami infeksi sehingga memerlukan penanganan yang tepat untuk mempercepat proses penyembuhan. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan minyak sacha inchi (Plukenetia volubilis L.) sebagai sediaan krim serta mengevaluasi aktivitas penyembuhan luka sayat pada kelinci (Oryctolagus cuniculus). Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan membuat beberapa formulasi krim minyak sacha inchi (%b/v) yaitu F0=0, F1=1,5, F2=2, dan F3=2,5, sediaan diuji sifat fisiknya meliputi uji organoleptik, homogenitas, tipe krim, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, serta uji stabilitas dengan metode cycling test. Uji penyembuhan luka sayat dilakukan dengan melihat panjang luka dan persentase penyembuhan antara kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan krim minyak sacha inchi memenuhi persyaratan mutu fisik dan kurang stabil selama penyimpanan, serta mampu mempercepat proses penyembuhan luka sayat, dimana F2 memberikan persentase penyembuhan tertinggi dibandingkan formulasi lainnya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Krim pencerah wajah yang dijual secara daring berpotensi mengandung bahan berbahaya seperti hidrokuinon yang penggunaannya dibatasi dalam produk kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan dan menentukan kadar hidrokuinon pada krim pencerah merek X yang dijual di Shopee.penelitian dilakukan secara kualitatif menggunakan metode kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan kuantitatif menggunakan Spektrofotometri UV-Vis terhadap 4 sampel yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Analisis KLT dilakukan menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak metanol:kloroform (25:25), kemudian diamati pada sinar UV 254 nm. Penetapan kadar dilakukan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 295 nm. Hasil penelitian menunjukkan sampel C dan sampel D mengandung hidrokuinon dengan nilai Rf sebesar 0,8 mendekati nilai Rf baku hidrokuinon 0,91, sedangkan sampel A dan B negatif. Rata-rata kadar hidrokuinon pada sampel C sebesar 14,3975% ± 1,110% dan sampel D sebesar 16,545% ± 0,643%. Hasil uji Independent Sampel t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan kadar hidrokuinon antar kedua sampel (p=0,172), tetapi kadar keduanya jauh melebihi batas BPOM RI sebesr 0,02%. Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019, kedua sampel tidak memenuhi persyaratan keamanan kosmetik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Krim SPF merupakan salah satu sediaan setengah padat yang dimaksudkan untuk pemakaian luar yang pemakaiannya dengan cara dioleskan pada bagian kulit utuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas fisik sediaan krim tabir surya yang mengandung ekstrak etanol daun Gamal selama penyimpanan. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium STIKes Ibnu Sina Ajibarang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan variasi konsentrasi (F1=0gram; F2=0,05gram; F3=0,10gram; F4=0,15gram). Parameter yang diamati yaitu uji stabilitas sifat fisik krim. Pada uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar dan uji daya lekat menunjukan hasil yang sesuai dengan persyaratan. Analisis data menggunakan SPSS 27 menggunakan uji normalitas, homogenitas, paired T-Test dan Independent T-Test. Hasil penelitian menunjukan bahwa setiap formulasi berbentuk semi padat dan homogen, F1 putih, F2 dan F3 tetap berwarna kuning menunjukan sediaan tetap stabil selama penyimpanan dan memenuhi persyaratan uji stabilitas Cycling test, namun F4 berubah warna setelah dilakukan uji stabilitas menjadi kuning pekat karna mengandung konsentrasi ekstrak yang paling tinggi sehingga perubahan warna sangat terlihat, dari hasil Uji pH, daya sebar, daya lekat tidak mengalami perubahan secara signifikan dan memenui persyaratan stabilitas fisik dengan uji Cycling test.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Krim merupakan sediaan semisolid berupa emulsi kental yang mengandung air tidak lebih dari 60% dan ditujukan untuk pemakaian luar. Sediaan krim memiliki keuntungan yaitu mudah menyebar rata, mudah dibersihkan atau dicuci, praktis dan cara kerjanya berlangsung pada jaringan setempat. Daun buncis mengandung senyawa flavonoid, tannin dan tripenoid yang dapat digunakan sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol daun buncis dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dan untuk mengetahui apakah terdapat aktivitas antibakteri pada sediaan krim ekstrak etanol daun buncis. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental. Kemudian dilakukan uji organoleptik, pemeriksaan Ph, daya sebar, daya lekat, viskositas dan diuji aktivitas antibakteri dengan difusi sumuran. Penelitian ini didapatkan hasil bahwa ekstrak etanol daun buncis dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dan memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter F1 7,44mm±1,45mm, F2 9,26mm±2,12mm dan F3 7,61±0,05mm yang termasuk dalam kategori sedang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap siswi SMK Kartek 2 Jatilawang kelas X, XI, dan XII terkait penggunaan krim pemutih wajah. Pengambilan data menggunakan kuisioner dengan metode Accidental Sampling dalam penentuan reponden. Metode penelitian ini adalah Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif observasional dengan desain cross-sectional. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan siswi mengenai krim pemutih wajah berada pada kategori tinggi, dengan persentase antara 86% hingga 88%. Namun, sikap siswi dalam penggunaan krim pemutih wajah menunjukkan kategori kurang tepat, dengan persentase antara 65% hingga 67%. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun siswi memiliki pengetahuan yang baik terkait penggunaan krim pemutih wajah, sikap dan penerapan dalam penggunaannya sehari-hari masih kurang tepat. Sehingga banyak siswi yang mengalami masalah kulit, seperti jerawat dan beruntusan setelah menggunakan krim pemutih wajah yang tidak aman. Penelitian ini menyarankan perlunya peningkatan edukasi dan pemahaman lebih lanjut mengenai penggunaan produk perawatan kulit yang aman dan efektif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan kosmetik, khususnya krim pemutih wajah, di kalangan remaja semakin meningkat. Pada desember 2023 BPOM telah mencatat beberapa produk pemutih wajah yang dinyatakan mengandung bahan berbahaya, hal ini menimbulkan potensi risiko kesehatan pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap siswi SMK Kartek 2 Jatilawang kelas X, XI, dan XII terkait penggunaan krim pemutih wajah. Pengambilan data menggunakan kuisioner dengan metode penelitian accidental sampling dalam penentuan responden. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif observasional dengan desain penelitian cross-sectional. Dari 94 responden menunjukkan hasil tingkat pengetahuan siswi mengenai krim pemutih wajah didapati kategori baik, dengan persentase total 87%. Namun, sikap siswi dalam penggunaan krim pemutih wajah menunjukkan kategori kurang tepat, dengan persentase total 66% dari 94 responden. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun siswi memiliki pengetahuan yang baik terkait penggunaan krim pemutih wajah, namun sikap dan penerapan dalam penggunaannya sehari-hari masih kurang tepat. Sehingga banyak siswi yang mengalami masalah kulit, seperti jerawat dan beruntusan setelah menggunakan krim pemutih wajah yang tidak aman. Penelitian ini menyarankan perlunya peningkatan edukasi dan pemahaman lebih lanjut mengenai penggunaan produk perawatan kulit yang aman dan efektif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Krim SPF merupakan salah satu sediaan setengah padat yang dimaksudkan untuk pemakaian luar yang pemakaiannya dengan cara dioleskan pada bagian kulit utuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas fisik sediaan krim tabir surya yang mengandung ekstrak etanol daun Gamal selama penyimpanan. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium STIKes Ibnu Sina Ajibarang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan variasi konsentrasi (F1=0gram; F2=0,05gram; F3=0,10gram; F4=0,15gram). Parameter yang diamati yaitu uji stabilitas sifat fisik krim. Pada uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar dan uji daya lekat menunjukan hasil yang sesuai dengan persyaratan. Analisis data menggunakan SPSS 27 menggunakan uji normalitas, homogenitas, paired T-Test dan Independent T-Test. Hasil penelitian menunjukan bahwa setiap formulasi berbentuk semi padat dan homogen, F1 putih, F2 dan F3 tetap berwarna kuning menunjukan sediaan tetap stabil selama penyimpanan dan memenuhi persyaratan uji stabilitas Cycling test, namun F4 berubah warna setelah dilakukan uji stabilitas menjadi kuning pekat karna mengandung konsentrasi ekstrak yang paling tinggi sehingga perubahan warna sangat terlihat, dari hasil Uji pH, daya sebar, daya lekat tidak mengalami perubahan secara signifikan dan memenui persyaratan stabilitas fisik dengan uji Cycling test.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Jerawat merupakan penyakit kulit yang melibatkan peradangan, salah satu penyebabnya adalah Staphylococcus aureus. Pengobatan jerawat dapat dilakukan dengan menurunkan jumlah koloni Staphylococcus aureus menggunakan antibiotik. Batang rumput gajah mengandung senyawa yang bersifat antibakteri seperti flavonoid, tanin, saponin dan alkaloid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sediaan krim ekstrak etanol batang rumput gajah (Pennisetum purpureum Schumach) mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian ini dilakukan di laboratorium STIKes Ibnu Sina Ajibarang pada bulan Januari sampai Juli 2024. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental menggunakan metode difusi sumuran dengan perbedaan konsentrasi. Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu F1 = 6,25%; F2 = 11%; dan F3 = 16% dengan pembanding kontrol negatif = F0 dan kontrol positif = krim gentamisin. Evaluasi fisik sediaan krim ekstrak etanol batang rumput gajah terdiri dari uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat, uji tipe krim, dan uji stabilitas (centrifugal test). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa formulasi krim dengan tipe krim minyak dalam air yang dibuat telah memenuhi persyaratan uji fisik sediaan krim. Formulasi krim yang dihasilkan homogen, memiliki rentang pH 5 - 6, daya sebar 5,11 cm hingga 5,44 cm, dan daya lekat krim berkisar antara 3,85 detik hingga 4,78 detik. Selanjutnya pada pengujian aktivitas antibakteri sediaan krim ekstrak etanol batang rumput gajah pada F2 memiliki zona hambat sedang sebesar 8,78 mm, pada F1 dan F3 memiliki zona hambat kuat sebesar 10,30 mm dan 12,85 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jerawat merupakan penyakit kulit yang dapat melibatkan peradangan, salah satu bakteri penyebab jerawat adalah Propionibacterium acnes. Pengobatan jerawat dapat dilakukan dengan menurunkan jumlah koloni Propionibacterium acnes dengan menggunakan terapi feeling dan terapi antibiotik. Daun kemuning mengandung senyawa yang berfungsi sebagai antibakteri seperti alkaloid, flavonoid, minyak atsiri dan tanin. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui ekstrak daun kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack) dapat diformulasikan dalam sediaan krim dan mengetahui sediaan krim ekstrak daun kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi dan Teknologi Farmasi STIKes Ibnu Sina Ajibarang. Jenis penelitian yang dilakukan yaitu eksperimental menggunakan metode difusi sumuran dengan menggunakan perbedaan konsentrasi. Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu F1 = 5%; F2 = 10%; dan F3 = 15% dengan pembanding kontrol positif (K+) = krim klindamisin dan kontrol negatif (F0) = 0%. Evaluasi fisik sediaan krim ekstrak daun kemuning terdiri dari uji organoleptis, uji pH, uji homogenitas, uji daya sebar, uji daya lekat, dan uji tipe krim. Hasil data dianalisis menggunakan program SPSS 25 menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, uji one way anova dan uji mann-witney. Hasil penelitian menunjukan bahwa formulasi krim yang dibuat telah memenuhi persyaratan uji fisik sediaan krim. Pengujian aktivitas antibakteri sediaan krim ekstrak etanol daun kemuning terhadap Propionibacterium acnes pada F1 7,20 mm memiliki zona hambat lemah, F2 15,81 mm memiliki zona hambat sedang, dan F3 23,86 mm memiliki zona hambat kuat terhadap bakteri Propionibacterium acnes
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
FORMULASI KRIM ANTIBAKTERI EKSTRAK ETIL ASETAT KULIT PISANG TANDUK MENTAH (Musa acuminata x Musa balbisiana) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes TRI YANI NOVIDA AZIZ ABSTRAK Jerawat merupakan penyakit kulit yang melibatkan peradangan, salah satu penyebabnya adalah Propionibacterium acnes. Pengobatan jerawat dapat dilakukan dengan menurunkan jumlah koloni Propionibacterium acnes dengan menggunakan antibiotik. Kulit pisang tanduk mentah mengandung senyawa yang bersifat antibakteri seperti flavonoid, alkaloid, saponin, fenol dan tanin. Tujuan dari penelitian ini yaitu apakah ekstrak etil asetat kulit pisang tanduk mentah (Musa acuminata x Musa balbisiana) dapat diformulasikan kedalam sediaan krim serta mengetahui pengaruh krim antibakteri ekstrak etil asetat kulit pisang tanduk mentah (Musa acuminata x Musa balbisiana) terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Determinasi buah pisang tanduk dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dan penelitian dilakukan di laboratorium STIKes Ibnu Sina Ajibarang pada bulan Febuari sampai Mei 2024. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental menggunakan metode difusi sumuran, dilanjutkan dengan analisis data menggunakan uji One Way ANOVA dengan program SPSS 25. Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu F1 = 25%; F2= 27,5%, dan F3 30% dengan pembanding kontrol negatif = F0 dan kontrol positif krim klindamisin. Evaluasi fisik sediaan krim ekstrak etil asetat kulit pisang tanduk terdiri dari uji homogenitas, uji organoleptik, uji daya lekat, uji pH, uji stabilitas (centrifugal test), uji tipe krim dan uji daya sebar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pada evaluasi fisik sediaan krim ekstrak etil asetat kulit pisang tanduk menunjukkan adanya daya sebar krim yang tidak memenuhi persyaratan dimana semakin banyak ekstrak yang ditambahakan membuat krim semakin kental, sehingga daya sebar krim menurun. Selanjutnya pada pengujian aktivitas antibakteri sediaan krim ekstrak etil asetat kulit pisang tanduk mentah pada formulasi (F1, F2, dan F3) memiliki zona hambat pada kategori sedang terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan rata-rata zona hambat terbesar yaitu pada F3 = 8,56 mm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kulit berminyak merupakan salah satu penyebab kulit berjerawat. Banyaknya kelenjar sebum yang dihasilkan dapat menyumbat pori-pori kulit. Penyumbatan terjadi disebabkan oleh salah satu bakteri penyebab jerawat yaitu staphylococcus aureus sehingga terjadi peradangan. Rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan tanaman afrika tropika yang sudah menyebar keseluruh penjuru dunia. Rumput gajah dapat tumbuh dari dekat pantai hingga ketinggian 2000m dari permukaan laut. Tumbuh baik dari suhu 25-45°C. Rumput gajah mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin dan tanin yang dipercaya sebagai antimikroba. Pada penelitian ini dibuat sediaan krim, sediaan krim dipilih karena memiliki kelebihan seperti mudah penggunaannya, tidak lengket dan mudah dibilas dengan air.