ResearchOpen AccessMetadata saja
•Hasil Penelitian dan Pengabdian
<ol>
<li style="margin-left: 42.55pt;">
Untuk mengetahui senyawa yang senyawa yang terkandung dalam ektrak etanol batang tanaman talas yang membentuk afinitas terhadap reseptor COX-2 sebagai antiinflamasi diujikan secara <em>in silico</em></li>
<li style="margin-left: 42.55pt;">
Untuk mengetahui aktifitas antiinflamasi ekstrak etanol daunt alas yang diujikan secara <em>in vitro</em></li>
</ol>
ResearchOpen AccessMetadata saja
•Hasil Penelitian dan Pengabdian
<div>
1. Masyarakat mengetahui pengertian hipertensi</div>
<div>
2. Masyarakat mengetahui gejala hipertensi</div>
<div>
3. Masyarakat mengetahui pengobatan hipertensi secara tradisional</div>
<div>
4. Masyarakat mengetahui manfaat daun sirsak </div>
ResearchOpen AccessMetadata saja
•Hasil Penelitian dan Pengabdian
<div>
Memberikan informasi kepada masyarakat tentang manfaat daun sirsak sebagai pengobatan alternatif pada penderita asam urat. </div>
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Krim merupakan sediaan semisolid berupa emulsi kental yang mengandung air tidak lebih dari 60% dan ditujukan untuk pemakaian luar. Daun buncis mengandung senyawa flavonoid, tannin dan tripenoid yang dapat digunakan sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol 70% daun buncis dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dan untuk mengetahui apakah terdapat aktivitas antibakteri pada sediaan krim ekstrak etanol 70% daun buncis. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Mikrobiologi, Kimia dan Teknologi Farmasi Universitas Ibnu Sina Ajibaranang. Jenis penelitian merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan metode difusi sumuran pada uji aktivitas antibakteri dan diuji sifat fisik sediaan yaitu uji organoleptik, pemeriksaan pH, daya sebar, daya lekat, viskositas. Analisis data pada penelitian ini menggunakan SPSS 27 pada uji one way anova dan uji T tidak Berpasangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ekstrak etanol 70% daun buncis tidak dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan krim pada semua perlakukan (F1, F2 dan F3), hal ini disebabkan karena uji daya sebar tidak memenuhi persyaratan yang baik pada sediaan krim dan memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter F1 1,63mm±0,84mm, F2 3,08mm±1,35mm dan F3 1,8±0,66mm yang termasuk dalam kategori lemah. Hasil analisis menunjukan bahwa krim ekstrak etanol daun buncis memiliki perbedaan siginifikan sebesar nilai signifikan <0.001(p<0,05)
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Krim merupakan sediaan semisolid berupa emulsi kental yang mengandung air tidak lebih dari 60% dan ditujukan untuk pemakaian luar. Sediaan krim memiliki keuntungan yaitu mudah menyebar rata, mudah dibersihkan atau dicuci, praktis dan cara kerjanya berlangsung pada jaringan setempat. Daun buncis mengandung senyawa flavonoid, tannin dan tripenoid yang dapat digunakan sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol daun buncis dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dan untuk mengetahui apakah terdapat aktivitas antibakteri pada sediaan krim ekstrak etanol daun buncis. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental. Kemudian dilakukan uji organoleptik, pemeriksaan Ph, daya sebar, daya lekat, viskositas dan diuji aktivitas antibakteri dengan difusi sumuran. Penelitian ini didapatkan hasil bahwa ekstrak etanol daun buncis dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dan memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter F1 7,44mm±1,45mm, F2 9,26mm±2,12mm dan F3 7,61±0,05mm yang termasuk dalam kategori sedang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Peningkatan prevalensi diabetes melitus memicu pencarian alternatif pengobatan berbahan alam yang minim efek samping dibandingkan obat sintetik. Salah satu tanaman yang berpotensi secara empiris adalah daun bayam duri (Amaranthus spinosus L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antidiabetes infusa daun bayam duri terhadap mencit jantan yang diinduksi hiperglikemia melalui pemberian dexamethasone. Metode penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan 25 ekor mencit jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok: kontrol negatif (aquadest), kontrol positif (glibenklamid), serta tiga kelompok perlakuan infusa daun bayam duri konsentrasi 15%, 25%, dan 35%. Kondisi hiperglikemia dicapai melalui induksi dexamethasone dan glukosa. Kadar glukosa darah diukur secara berkala pada hari ke-0, ke-7, dan ke-14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh konsentrasi infusa mampu menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan dibandingkan kontrol negatif. Efek penurunan glukosa darah meningkat seiring dengan bertambahnya konsentrasi. Konsentrasi 35% (F4) ditemukan sebagai dosis paling optimal karena mampu menurunkan kadar glukosa hingga 31,5% (rerata akhir 101,0 mg/dL). Kesimpulannya, infusa daun bayam duri memiliki aktivitas antidiabetes yang signifikan pada model resistensi insulin
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kanker payudara merupakan salah satu penyakit dengan angka kematian tinggi pada wanita. Salah satu penyebabnya adalah gangguan mekanisme apoptosis akibat peningkatan ekspresi protein B Cell Lymphoma 2 yang berperan sebagai protein antiapoptosis. Daun pepaya (Carica papaya L.) diketahui mengandung senyawa flavonoid dan alkaloid yang berpotensi sebagai agen antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi senyawa turunan flavonoid dan alkaloid daun pepaya sebagai modulator protein BCL-2 pada kanker payudara secara in silico. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental deskripif. Metode penelitian dilakukan menggunakan molecular docking, prediksi profil farmakokinetik dan toksisitas (ADME-T). Doxorubicin digunakan sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa senyawa flavonoid dan alkaloid memiliki energi ikatan yang stabil dan mampu berinteraksi dengan residu asam amino penting pada protein BCL-2. Prediksi ADME-T menunjukkan sebagian besar senyawa memiliki profil farmakokinetik yang baik dan tingkat toksisitas yang lebih rendah dibandingkan doxorubicin. Senyawa turunan flavonoid dan alkaloid daun pepaya berpotensi dikembangkan sebagai kandidat obat antikanker payudara melalui modulasi protein BCL-2.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
FORMULASI SERUM ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN SAMBANG DARAH (Excoecaria codainchinensis) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes KHORIAHSA DWI RENJANI ABSTRAK Jerawat atau yang biasa disebut Acne vulgaris merupakan penyakit kulit kronis yang melibatkan peradangan pada salah satu penyebabnya bakteri Propionibacterium acnes. Pengobatan jerawat dapat dicegah menggunakan antibakteri dapat dilakukan pemberian antibiotik. Daun sambang darah mengandung senyawa yang bersifat antibakteri seperti flavonoid, saponin dan tanin. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui ekstrak etanol daun sambang darah (Excoecaria codainchinensis) dapat diformulasikan menjadi sediaan serum dan mengetahui sediaan serum ekstrak etanol daun sambang darah (Excoecaria codainchinensis) mempunyai aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes. Penelitian ini dilakukan di laboratorium STIKes Ibnu Sina Ajibarang pada bulan april sampai juli 2025. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental menggunakan metode difusi sumuran. Analisis data menggunakan uji ANOVA dengan program SPPS 26. Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu F1 3%, F2 5%, dan F3 7% dengan pembanding kontrol negatif = F0. Evaluasi fisik sediaan serum ekstrak etanol daun sambang darah terdiri daru uji homongenitas, uji organoleptik, uji daya sebar, uji viskositas, dan uji pH. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sediaan serum ekstrak etanol daun sambang darah sesuai dengan persyaratan. Selanjutnya uji aktivitas antibakteri sediaan serum pada formulasi (F1,F2 dan F3) memiliki zona hambat pada kategori sedang terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan daya hambat terbesar yaitu F3 = 40,9 mm. Pada penelitian ini kontrol negatif mengmbat pertumbuhan bakteri Propionibaterium acnes.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Krim SPF merupakan salah satu sediaan setengah padat yang dimaksudkan untuk pemakaian luar yang pemakaiannya dengan cara dioleskan pada bagian kulit utuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas fisik sediaan krim tabir surya yang mengandung ekstrak etanol daun Gamal selama penyimpanan. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium STIKes Ibnu Sina Ajibarang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan variasi konsentrasi (F1=0gram; F2=0,05gram; F3=0,10gram; F4=0,15gram). Parameter yang diamati yaitu uji stabilitas sifat fisik krim. Pada uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar dan uji daya lekat menunjukan hasil yang sesuai dengan persyaratan. Analisis data menggunakan SPSS 27 menggunakan uji normalitas, homogenitas, paired T-Test dan Independent T-Test. Hasil penelitian menunjukan bahwa setiap formulasi berbentuk semi padat dan homogen, F1 putih, F2 dan F3 tetap berwarna kuning menunjukan sediaan tetap stabil selama penyimpanan dan memenuhi persyaratan uji stabilitas Cycling test, namun F4 berubah warna setelah dilakukan uji stabilitas menjadi kuning pekat karna mengandung konsentrasi ekstrak yang paling tinggi sehingga perubahan warna sangat terlihat, dari hasil Uji pH, daya sebar, daya lekat tidak mengalami perubahan secara signifikan dan memenui persyaratan stabilitas fisik dengan uji Cycling test.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti virus, bakteri, dan parasit. Persentase infeksi nosokomial di Indonesia yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus sebesar 21,7%. Penemuan senyawa antibiotik baru dari bahan alam seperti daun buncis (Phaseolus vulgaris L.) menjadi salah satu alternatif pengobatan yang dapat digunakan sebagai terapi tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol 70% dan 96% daun buncis (Phaseolus vulgaris L.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan memiliki perbedaan yang signifikan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Farmakognosi dan Mikrobiologi Stikes Ibnu Sina Ajibarang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksperimental, menggunakan metode sumuran untuk uji aktivitas antibakteri dengan perbedaan pelarut (F0=kontrol negatif (DMSO 10%); F1=ekstrak etanol 70%; F2=ekstrak etanol 96%, dan F3=kontrol positif). Analis data menggunakan uji One Way ANOVA, uji non parametrik Kruskal wallis dan Maan Whitney. Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% dan 96% daun buncis menunjukkan zona hambat secara berturut-turut adalah 6.59 mm dan 7.07 mm dengan kategori sedang terhadap Staphylococcus aureus. Hasil analisis menunjukkan ekstrak etanol 70% dan 96% tidak memiliki perbedaan yang signifikan terhadap aktivitas antibakteri dengan nilai signifikan 0.827 (p>0.05). Ekstrak etanol 70% dan 96% daun buncis memiliki aktivitas antibakteri namun tidak memiliki perbedaan yang signifikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Krim merupakan sediaan semisolid berupa emulsi kental yang mengandung air tidak lebih dari 60% dan ditujukan untuk pemakaian luar. Sediaan krim memiliki keuntungan yaitu mudah menyebar rata, mudah dibersihkan atau dicuci, praktis dan cara kerjanya berlangsung pada jaringan setempat. Daun buncis mengandung senyawa flavonoid, tannin dan tripenoid yang dapat digunakan sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol daun buncis dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dan untuk mengetahui apakah terdapat aktivitas antibakteri pada sediaan krim ekstrak etanol daun buncis. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental. Kemudian dilakukan uji organoleptik, pemeriksaan Ph, daya sebar, daya lekat, viskositas dan diuji aktivitas antibakteri dengan difusi sumuran. Penelitian ini didapatkan hasil bahwa ekstrak etanol daun buncis dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dan memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter F1 7,44mm±1,45mm, F2 9,26mm±2,12mm dan F3 7,61±0,05mm yang termasuk dalam kategori sedang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Krim SPF merupakan salah satu sediaan setengah padat yang dimaksudkan untuk pemakaian luar yang pemakaiannya dengan cara dioleskan pada bagian kulit utuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas fisik sediaan krim tabir surya yang mengandung ekstrak etanol daun Gamal selama penyimpanan. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium STIKes Ibnu Sina Ajibarang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan variasi konsentrasi (F1=0gram; F2=0,05gram; F3=0,10gram; F4=0,15gram). Parameter yang diamati yaitu uji stabilitas sifat fisik krim. Pada uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar dan uji daya lekat menunjukan hasil yang sesuai dengan persyaratan. Analisis data menggunakan SPSS 27 menggunakan uji normalitas, homogenitas, paired T-Test dan Independent T-Test. Hasil penelitian menunjukan bahwa setiap formulasi berbentuk semi padat dan homogen, F1 putih, F2 dan F3 tetap berwarna kuning menunjukan sediaan tetap stabil selama penyimpanan dan memenuhi persyaratan uji stabilitas Cycling test, namun F4 berubah warna setelah dilakukan uji stabilitas menjadi kuning pekat karna mengandung konsentrasi ekstrak yang paling tinggi sehingga perubahan warna sangat terlihat, dari hasil Uji pH, daya sebar, daya lekat tidak mengalami perubahan secara signifikan dan memenui persyaratan stabilitas fisik dengan uji Cycling test.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti virus, bakteri, dan parasit. Persentase infeksi nosokomial di Indonesia yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus sebesar 21,7%. Penemuan senyawa antibiotik baru dari bahan alam seperti daun buncis (Phaseolus vulgaris L.) menjadi salah satu alternatif pengobatan yang dapat digunakan sebagai terapi tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol 70% dan 96% daun buncis (Phaseolus vulgaris L.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan memiliki perbedaan yang signifikan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Farmakognosi dan Mikrobiologi Stikes Ibnu Sina Ajibarang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksperimental, menggunakan metode sumuran untuk uji aktivitas antibakteri dengan perbedaan pelarut (F0=kontrol negatif (DMSO 10%); F1=ekstrak etanol 70%; F2=ekstrak etanol 96%, dan F3=kontrol positif). Analis data menggunakan uji One Way ANOVA, uji non parametrik Kruskal wallis dan Maan Whitney. Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% dan 96% daun buncis menunjukkan zona hambat secara berturut-turut adalah 6.59 mm dan 7.07 mm dengan kategori sedang terhadap Staphylococcus aureus. Hasil analisis menunjukkan ekstrak etanol 70% dan 96% tidak memiliki perbedaan yang signifikan terhadap aktivitas antibakteri dengan nilai signifikan 0.827 (p>0.05). Ekstrak etanol 70% dan 96% daun buncis memiliki aktivitas antibakteri namun tidak memiliki perbedaan yang signifikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan
hiperglikemia. Pengobatan DM tipe II biasanya menggunakan obat-obat sintesis
dengan berbagai efek samping. Obat penghambat enzim Dipeptidyl Peptidase IV
(DPP-IV) belum banyak dikaji dan potensial dalam hipoglikemia. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji senyawa turunan flavonoid dan alkaloid daun pepaya
dalam menghambat enzim DPP-IV melalui molecular docking dan mengetahui
profil ADME-T. Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia STIKes Ibnu
Sina Ajibarang. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental deskripif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa semua senyawa turunan flavonoid daun pepaya
yaitu epimedin, eupatolitin, methyl ophiopogonone b, bavachin, norcimifugin
dengan nilai ΔG berturut-turut dalam kkal/mol sebesar -129.14; -104.82; -98.5; -
98.92; -95 berpontensi sebagai antidiabetik. Kemudian senyawa turunan alkaloid
daun pepaya yaitu peimisine, 1-carbomethoxy-β-carboline, dicentrine,
codonopsine, carpaine dengan nilai ΔG berturut-turut dalam kkal/mol sebesar -
102.88; -86.67; -85.84; -85.7; -85.1 berpontensi sebagai antidiabetik. Analisis
ADME-T dari senyawa turunan flavonoid dan alkaloid daun pepaya menunjukan
mayoritas senyawa terabsorbsi melalui gastrointestinal, terdistribusi melalui blood
brain barrier, termetabolisme dengan bantuan enzim CYP450, dan dapat
diekskresikan oleh tubuh. Beberapa senyawa bersifat toksik, tidak bersifat
karsinogenik, dan tidak bersifat mutagenik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Antioksidan adalah senyawa yang dapat digunakan untuk menangkal radikal bebas. Daun kakao muda dan daun kakao tua digunakan dalam penelitian perbandingan ini karena pada daun tersebut memiliki kandungan polifenol yang berbeda yaitu pada daun kakao muda memiliki kandungan polifenol sebesar 19,0% dan pada daun kakao tua kandungan polifenolnya sebesar 28,4%. Perbedaan kandungan polifenol tersebut juga berpengaruh pada aktivtas antioksidannya. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah antara daun kakao muda dan daun kakao tua memiliki perbedaan aktivitas antioksidan yang signifikan atau tidak serta untuk mengetahui perbedaan nilai IC₅₀ pada daun kakao muda dan daun kakao tua. Metode yang digunakan yaitu metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant). Metode FRAP digunakan untuk menunjukkan reaksi transfer elektron dari antioksidan ke senyawa Feᵌ⁺-TPTZ. Konsentrasi ekstrak daun kakao muda dan daun kakao tua yang digunakan yaitu 20, 40, 60, 80, dan 100 ppm. Pengujian aktivitas antioksidan ini dilakukan dengan menggunakan spektrovotometri Uv-Vis dengan panjang gelombang maksimum yang didapat yaitu 592 nm. Uji aktivitas antioksidan pada ekstrak daun kakao muda dan daun kakao tua menghasilkan nilai IC₅₀ berurutan sebesar 79,415 ppm dan 26,458 ppm dengan kategori kuat dan sangat kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tabir surya adalah suatu sediaan yang terdapat senyawa kimia didalamnya yang dapat menyerap atau memantulkan sinar UV yang mengenai kulit sehingga bisa digunakan untuk melindungi fungsi dan struktur kulit manusia dari dampak negatif sinar UV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fraksi butanol dari ekstrak etanol daun gamal dapat diformulasikan sebagai krim dan mengetahui aktifitas krim tabir surya fraksi butanol ekstrak etanol daun gamal. Penelitian ini dilakukan di laboratorium STIKes Ibnu Sina Ajibarang pada bulan Juni sampai Juli 2024. Jenis penelitian ini yaitu eksperimental dengan variasi konsentrasi fraksi butanol ekstrak etanol daun gamal (F1=0gram; F2=0,05gram; F3=0,10gram; F4=0,15gram). Parameter yang diamati meliputi uji sifat fisik krim dan uji nilai SPF. Pada ujii organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar dan uji daya lekat menunjukkan hasil yang sesuai persyaratan. Hasil pada uji nilai SPF menunjukkan bahwa F4 memperoleh nilai SPF sebesar 10,68 yang berarti memiliki proteksi paling tinggi yaitu maksimum pada penelitian ini. Kemudian analisis data menggunakan One Way ANOVA, dengan menguji normalitas dan homogenitas sebagai prasyarat dalam uji ini dengan hasil menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar kelompok uji (p value 0,05).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Luka adalah keadaan rusaknya sebagian jaringan tubuh yang disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan. Penggunaan obat luka pada kulit umumnya menggunakan sediaan berupa krim, gel, salep atau larutan baik dari bahan sintesis maupun alami. Penggunaan obat sintesis dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif pengobatan lain dengan memanfaatkan bahan alam. Daun Talas (Colocasia esculenta L. Schott) memiliki kandungan senyawa berupa alkaloid, flavonoid, dan saponin yang memiliki peran dalam penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol daun talas (Colocasia esculenta L. Schott) dapat diformulasikan sebagai plester patch dan menguji efektivitas plester patch dalam menyembuhkan luka sayat. Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium STIKes Ibnu Sina Ajibarang. Jenis penelitian yaitu eksperimental dengan variasi konsentrasi ekstrak etanol daun talas (F0=0%; F1=2,5%; F2=5%) serta pengujian penyembuhan luka sayat dengan pemberian patch dan pengamatan penyembuhan luka dilakukan selama 14 hari. Parameter yang diamati meliputi uji fisik plester patch, panjang dan persentase penyembuhan luka sayat. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan SPSS 25 dengan uji Paired Sample T-Test dan Post Hoc Least Significant Difference (LSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan F1 dan F2 pada uji organoleptik memiliki warna, bau dan bentuk yang sama (warna hijau tua, bentuk transdermal, dan bau khas daun); untuk uji pH, uji keseragaman bobot, uji ketebalan dan uji ketahanan lipat memenuhi persyaratan, dari hasil tersebut disimpulkan ekstrak etanol daun talas dapat dibuat sediaan patch. Hasil penelitian menunjukkan panjang luka sayat kelompok F0, F1 dan F2 berbeda signifikan pada hari ke-3, 6, 9, 12, dan 14 (p0,05). Hasil analisis data penyembuhan luka sayat pada hari terakhir pengamatan (hari ke-14) menunjukkan perbedaan signifikan antara F0, F1 dan F2 (p value 0,05).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
FORMULASI SEDIAAN ACNE PATCH EKSTRAK ETANOL DAUN KERSEN (Muntingia calabura L.) Terhadap Propionibacterium acnes UJIANA ASYFA SABRY ABSTRAK Acne vulgaris atau jerawat adalah suatu kondisi pada kulit yang mempengaruhi kelenjar sebacuous di dasar folikel rambut, salah satu penyebabnya adalah Propionibacterium acnes. Pengobatan pada jerawat dapat dilakukan dengan menghambat pertumbuhan bakteri propionibacterium acnes dengan menggunakan antibiotik. Daun kersen mengandung senyawa antibakteri yaitu seperti flavanoid, tanin dan saponin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi acne patch ekstrak etanol daun kersen (Muntingia calabura L.) mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes. Penelitian ini dilakukan di laboratorium STIKes Ibnu Sina Ajibarang pada bulan Maret sampai Juni 2024. Jenis penelitia ini adalah eksperimental dengan menggunakan metode difusi sumuran dengan perbedaan konsentrasi ekstrak. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah pada F1 = 3% ; F2 = 6% ; F3= 9% dengan perbandingan kontrol negatif = F0 dan kontrol Positif = Oxy antibacterium. Evaluasi fisik sediaan acne patch ekstrak etanol daun kersen meliputi uji organoleptik, uji keseragaman bobot, uji daya serap kelembapan, uji ketebalan dan uji pH. Hasil penelitian ini menunjukkan pada evaluasi fisik sediaan acne patch ekstrak etanol daun kersen menujukkan ketidaksesuaian pada uji ketahanan patch yaitu dengan hasil F0 7 lipatan, F1, F2, dan F3 dengan jumlah lipatan 10. Dimana hal tersebut faktor yang mempengaruhi ketahanan elastisitas sediaan acne patch adalah dari bahan formulasi yang digunakan terlalu sedikit yaitu pada propilenglikol yang berfungsi sebagai plasticizer. Selanjutnya pada pengujian aktivitas antibakteri formulasi acne patch ekstrak etanol daun kersen (F1 ; F2 ; dan F3) Menunjukkan adanya zona hambat kuat terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan rata-rata zona hambat terbesar yaitu F3 = 12,8 mm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Acne vulgaris (Jerawat) adalah gangguan inflamasi pada unit polisebasea, yang berlangsung secara kronis dan dapat sembuh sendiri. Biasanya acne vulgaris terjadi pada masa remaja karena meningkatnya produksi sebum dan aktivitas bakteri Propionibacterium acne. Pada umumnya pengobatan jerawat menggunakan bahan kimia, namun dapat menyebabkan beberapa efek samping. Oleh karena itu diperlukan pengobatan dari bahan alami salah satunya daun mahoni. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah fraksi etil asetat daun mahoni (Swietenia mahagoni (L). Jacq.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acne dan mengetahui berapakah konsentrasi yang optimal fraksi etil asetat daun mahoni (Swietenia mahagoni (L). Jacq.) yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acne. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakognosi dan Laboratorium Mikrobiologi STIKes Ibnu Sina Ajibarang. Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif eksperimental dengan menggunakan metode maserasi untuk ekstraksi, fraksinasi secara ECC untuk mendapatkan fraksi etil asetat, dan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode sumuran dengan 3 perlakuan (A1;20%, A2;30%, A; 40%, K(+) Clindamycin 300 mg dan K(-) aquadest steril). Analisis data menggunakan program SPSS 25 dengan uji One-Way Anova. Hasil dari penelitian ini fraksi etil asetat daun mahoni memiliki aktivitas antibakteri. Hal ini dapat dilihat dari munculnya zona hambat pada semua perlakuan A1 (12,86 mm ± 1,58 mm) ; A2 (17,06 mm ± 1,83 mm) ; A3 (23,7 mm ± 0,60 mm) ; dan K+ (34,23 ± 2,04 mm). Kesimpulan dari penelitian ini adalah fraksi etil asetat mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acne pada semua konsentrasi (A1; A2; A3) yang ditandai dengan terbentuknya zona bening di sekitar sumuran. Konsentrasi fraksi etil asetat daun mahoni (Swietenia Mahagoni (L) Jacq.) yang paling optimal dalam menghambat pertumbuhan Propionibacterium acne yaitu pada konsentrasi A3 dengan kategori zona hambat sangat kuat, disusul A2 dan A1 dengan kategori zona hambat kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Lip cream merupakan sediaan lipstik berbentuk cair yang banyak diminati oleh konsumen karena dapat melembabkan bibir dalam waktu yang lama, lip cream juga menghasilkan efek warna yang lebih merata pada bibir. Salah satu pewarna alami yang potensial untuk dikembangkan adalah daun inai yang menghasilkan molekul berwarna kuning kemerahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak daun inai (Lawsonia inermis L.) dapat diformulasikan dalam sediaan lip cream dan mengetahui formulasi manakah yang paling bagus untuk dijadikan sediaan lip cream ekstrak etanol daun inai (Lawsonia inermis L.). Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Farmasi SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga dengan menggunakan metode maserasi dan membuat variasi konsentrasi (F0) ekstrak 0%, (F1) 4%, (F2) 5%, (F3) 6%. Evaluasi sediaan lip cream meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar dan uji kesukaan. Hasil evaluasi sediaan lip cream menunjukkan semua formula memenuhi persyaratan serta uji kesukaan yang dilakukan pada 30 panelis siswi SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga memilih F2 (5%) yang banyak digemari dengan memperoleh 12 sangat suka dan 18 suka.